"Ma, temani aku dong. Mbak sudah tidur, aku takut nich sendirian nonton TV!" pinta Farrel anak sulungku ketika aku masih menidurkan Joshua adiknya.
"Gak usah takut, Kak. Pintu kamar mama buka jadi bisa sambil menemani kakak dari sini!"jawabku
"Tapi aku takut setan, Mama!"rajuknya
"Gak usah takut setan, kan Tuhan Yesus menjaga kita semua. Kalau ada setan kakak usir aja di dalam nama Tuhan Yesus. Kalau gak bisa ngusir teriak aja bilang Tuhan Yesus tolong usir setannya doong!! Kakak takut nich!"jawabku serius. (Mrk 16:17a Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku,)
Farrel tidak membantah, kembali menonton acara kesayangannya dan membiarkan aku menidurkan adiknya. Hari berlalu saya sudah melupakan peristiwa itu. Farrel memang tidak pernah lagi merengek meminta ditemani jika saya sibuk menidurkan adiknya.
Pada suatu hari, ketika libur dan menemani anak-anak bermain di rumah mendadak langit gelap dan hujan mengguyur deras sekali. Farrel asyik memandangi teman-temannya yang bermandi hujan. Aku segera menyuruhnya masuk takut dia sakit. Selain itu kilat sedang menyambar-nyambar dan suasana (sejujurnya) membuat saya takut.
"Masuklah, Kak! Mama takut lihat kilatnya, yuk!" ajak saya
Farrel menurut, segera meninggalkan tepian teras yang dekat jalan dan duduk di teras kami sendiri. "Loh, ayo masuk, Kak! Hujan dan kilatnya gede nich! serem ah!" seruku
Farrel menatapku dengan tatapan polosnya dan mengalirlah satu kalimat yang membuat saya terkaget-kaget,"Kan ada Tuhan Yesus, DIA kan yang jaga kita. Kalau mama masih juga takut tinggal bilang aja sama DIA agar kilatnya diberentiin! "
Memang ungkapan Farrel yang begitu sederhana tadi memang harus diluruskan. Tapi caranya mengimani keberadaan Tuhan yang menjaga dan melindungi cukup membuat saya terharu dan belajar sesuatu. Ungkapan itu juga yang membuat saya belajar bahwa Firman Tuhan yang kita ajarkan kepada anak atau siapapun menjadi satu pedang bermata dua.
Ah, andai saja aku bisa seperti Farrel yang mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, sudah barang tentu aku tidak perlu mengalami stress saat tekanan hidup terasa berat. Memiliki iman polos anak kecil yang tahu bahwa Tuhan yang menjaga DIA akan selalu menjamin kehidupan kita, tentu akan memudahkan saya melewati masa-masa yang tidak masuk akal. Memiliki iman polos anak kecil pasti membuat saya lebih berani menghadapi masa depan yang penuh harapan. (Mzm 121:5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.)
Farrel, mama bangga padamu. Hari ini 1 Mei 2012, genap 5 tahun usiamu. Sesuai dengan namamu : JONATHAN FARREL KOLONDAM (Anugerah Terindah yang Pemberani bagi keluarga) kamu memang menunjukkan karakter seorang pemberani yang tangguh, namun memiliki hati seorang murid yang mudah dan suka diajar.
Doa Mama, kiranya Tuhan Yesus memberkatimu dengan kesehatan, kecerdasan, kemujuran, juga hati yang taat kepada Tuhan dan patuh di bawah pengasuhan Mama. Mama bukanlah orangtua yang sempurna, tapi percayalah bahwa Mama akan terus berusaha menjadi orangtua yang terbaik untukmu.
Mama mengulik kalimat seorang yang penuh hikmat Allah, untukmu pelita hati mama (Amsal 3: 11-16)
(11) Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. (12) Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. (13) Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, (14) karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. (15) Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. (16) Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.
..............................
Catatan seorang murid yang mencoba meneladani langkah SANG GURU dalam setiap langkahnya. Meninggalkan jejak yang baik, untuk generasi yang sekarang dan yang akan datang.
Tampilkan postingan dengan label farrel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farrel. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Mei 2012
Rabu, 25 November 2009
Sayaaang, Mamaa !!
Sabtu sore yang digelayuti mendung, kami dengan formasi lengkap bercengkerama di kamar tidur. Tingkah polah dan celoteh anak-anak membuat kami sering terbahak-bahak. Hal yang seringkali membuat suami saya cemburu adalah jika anak-anak sedang berebutan untuk memeluk saya sampai berkelahi, sementara memilih untuk menyueki (halah) mengabaikan papanya.
“Farrel, kamu sayang Mama tidak?” tanya suami saya menginterupsi keasyikan Farrel (si Sulung) yang tengah mengacak-acak flashcard nya
“Enggak !” jawab Farrel dengan gaya cadelnya
Suami saya langsung terbahak-bahak dan berseru,”Wah, mamamu bisa patah hati tuh cintanya tak kau balas!”
Berhubung lelah mengamankan si Bungsu, Joshua yang tidak bisa diam saya hanya tersenyum terus duduk leyeh-leyeh (duduk setengah rebahan). Entah Farrel yang baru dua tahun itu menyadari bahwa jawabannya bisa saja melukai perasaan saya atau hanya suatu kebetulan dia menatap saya sambil tersenyum, lalu duduk di atas pangkuan saya dan memeluk erat. Saya membalasnya dengan usapan lembut di punggungnya…dia lalu mengangkat wajahnya menatap tepat ke mata saya. Kedua tangan mungilnya membelai lembut pipi saya sambil berkata,”Sayaaang mamaa! Muaaahh!” Lalu dia memeluk saya lagi lebih erat dari sebelumnya, saya pun membalas,”Mama juga sayang Farrel !”
Sekali lagi dia menepuk pipi saya, mengerling nakal dan memberikan kecupan kilat..Muaach..dan kembali meneruskan bermainnya.
Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Farrel memang masih terbatas. Bahkan kadang-kadang saya perlu waktu untuk menterjemahkan bahasa bayinya. Tapi pelukan dan kecupan nya mewakili banyak kata yang belum bisa dia ungkapkan dengan jelas. Bahkan kalau boleh jujur, getaran cintanya terus terbawa kemana pun saya pergi.
Betapa perbuatan dan sikap nyata jauh bermakna daripada kata-kata. Di sekeliling kita, banyak yang terbuai kata cinta hingga buta melihat suatu kenyataan yang sebaliknya. Banyak pula yang akhirnya menyadari ketika semuanya terlambat dan ada harga yang terlalu mahal untuk menebusnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah perbuatan kita relevan dengan apa yang kita ucapkan? Ataukah jauh bumi dengan langit?
Apakah kita adalah orang yang membiarkan pasangan kita kesepian karena lebih asyik mengurusi hobi kita.. padahal mungkin di menit yang baru saja berlalu, kita mengucapkan,”I Love You?”
Apakah kita adalah orang yang gemar mengecewakan pasangan kita karena mengingkari janji, namun di saat yang sama mengucapkan betapa kita setia kepadanya?
Apakah kita orangtua yang gemar membohongi anak-anak kita, namun di saat yang sama mengajari mereka untuk jujur dan terbuka?..hati-hati, kejernihan hati dan kepolosan mereka tetap bisa menangkap ketidakjujuran kita lho
Apakah kita orangtua yang selalu menghimbau anak-anak untuk rajin beribadah, sementara kita sendiri enggan untuk melakukannya?
Masih banyak hal bertolak belakang yang tak mudah disebutkan satu per satu di sini, namun saya yakin…kita sudah sama-sama dewasa untuk bisa menelaahnya, bukan? Bahwa kita dituntut bukan hanya handal berbicara tapi tak mampu berbuat dengan baik. Karena perbuatan kita adalah bukti dari pengertian yang kita ucapkan.
^^^
Duh, sakit dua hari membuatku tak mampu merangkai kata-kata dengan baik, mudah-mudahan bisa ditangkap maknanya, ya?
Jakarta, 23 November 2009
^^^
“Farrel, kamu sayang Mama tidak?” tanya suami saya menginterupsi keasyikan Farrel (si Sulung) yang tengah mengacak-acak flashcard nya
“Enggak !” jawab Farrel dengan gaya cadelnya
Suami saya langsung terbahak-bahak dan berseru,”Wah, mamamu bisa patah hati tuh cintanya tak kau balas!”
Berhubung lelah mengamankan si Bungsu, Joshua yang tidak bisa diam saya hanya tersenyum terus duduk leyeh-leyeh (duduk setengah rebahan). Entah Farrel yang baru dua tahun itu menyadari bahwa jawabannya bisa saja melukai perasaan saya atau hanya suatu kebetulan dia menatap saya sambil tersenyum, lalu duduk di atas pangkuan saya dan memeluk erat. Saya membalasnya dengan usapan lembut di punggungnya…dia lalu mengangkat wajahnya menatap tepat ke mata saya. Kedua tangan mungilnya membelai lembut pipi saya sambil berkata,”Sayaaang mamaa! Muaaahh!” Lalu dia memeluk saya lagi lebih erat dari sebelumnya, saya pun membalas,”Mama juga sayang Farrel !”
Sekali lagi dia menepuk pipi saya, mengerling nakal dan memberikan kecupan kilat..Muaach..dan kembali meneruskan bermainnya.
Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Farrel memang masih terbatas. Bahkan kadang-kadang saya perlu waktu untuk menterjemahkan bahasa bayinya. Tapi pelukan dan kecupan nya mewakili banyak kata yang belum bisa dia ungkapkan dengan jelas. Bahkan kalau boleh jujur, getaran cintanya terus terbawa kemana pun saya pergi.
Betapa perbuatan dan sikap nyata jauh bermakna daripada kata-kata. Di sekeliling kita, banyak yang terbuai kata cinta hingga buta melihat suatu kenyataan yang sebaliknya. Banyak pula yang akhirnya menyadari ketika semuanya terlambat dan ada harga yang terlalu mahal untuk menebusnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah perbuatan kita relevan dengan apa yang kita ucapkan? Ataukah jauh bumi dengan langit?
Apakah kita adalah orang yang membiarkan pasangan kita kesepian karena lebih asyik mengurusi hobi kita.. padahal mungkin di menit yang baru saja berlalu, kita mengucapkan,”I Love You?”
Apakah kita adalah orang yang gemar mengecewakan pasangan kita karena mengingkari janji, namun di saat yang sama mengucapkan betapa kita setia kepadanya?
Apakah kita orangtua yang gemar membohongi anak-anak kita, namun di saat yang sama mengajari mereka untuk jujur dan terbuka?..hati-hati, kejernihan hati dan kepolosan mereka tetap bisa menangkap ketidakjujuran kita lho
Apakah kita orangtua yang selalu menghimbau anak-anak untuk rajin beribadah, sementara kita sendiri enggan untuk melakukannya?
Masih banyak hal bertolak belakang yang tak mudah disebutkan satu per satu di sini, namun saya yakin…kita sudah sama-sama dewasa untuk bisa menelaahnya, bukan? Bahwa kita dituntut bukan hanya handal berbicara tapi tak mampu berbuat dengan baik. Karena perbuatan kita adalah bukti dari pengertian yang kita ucapkan.
^^^
Duh, sakit dua hari membuatku tak mampu merangkai kata-kata dengan baik, mudah-mudahan bisa ditangkap maknanya, ya?
Jakarta, 23 November 2009
^^^
Langganan:
Postingan (Atom)