Selasa, 12 Juli 2011

Gereja Idaman

--sekedar menyelamatkan tulisan saya yang diposting di milis yg lagi rame *wink* --

“Sob, menurutmu, mengapa banyak orang eksodus dari Gereja yang lama?”Tanya seorang teman

“Hm..mungkin..karena belum mendapatkan Gereja Idaman!”jawabku sekenanya
Tanyanya lagi kepadaku,”Gereja idamanmu seperti apa, Sob?”

Aku tercenung, antara ingin menjawab jujur dan menjawab yang ideal agar telihat rohani. Disentuhnya punggung tanganku dan berkata,”Jujur saja, jangan takut”

Maka aku pun menjawab,”Gereja idaman bagiku adalah suatu tempat yang jika aku berkunjung ke sana aku merasa PULANG!”

Dia mengernyitkan dahi, aku pun melanjutkan opiniku.

Iya..merasa pulang!! Tegasku, merasa pulang berarti, aku mendapatkan sesuatu yang berbeda setelah berjibaku dengan dunia seminggu penuh. Merasa pulang berarti aku menjumpai hal-hal yang menyenangkan seperti ketika aku pulang dari bepergian jauh.

Merasa pulang berarti, ketika aku datang banyak orang yang menunjukkan betapa kedatanganku sangat diharapkan. Dan ketidakhadiranku adalah sepi dan memunculkan kerinduan.

Meja makan yang dipenuhi menu cinta kasih dengan aneka ragam rasa. Ramai kita saudara bersaudara berkumpul di sekelilingnya bersendagurau bertukar cerita dengan akrab tanpa malu. Menu wajib yang sangat aku rindukan adalah : menu yang menyegarkan, menu yang mengingatkan, menu yang menunjukkan arah, yang menyatakan kesalahan, menu yang memperbaiki kelakuan, juga menu yang membuatku menyukai hidup dalam kebenaran.

Menu-menu makan itu diracik dengan bumbu yang membumi, sehingga lidahku tak terasa asing. Menu-menu makan di atas disajikan dengan tangan-tangan manusiawi sehingga lidah dan lambungku tak menolak untuk diisi.

Jika aku kedapatan berbuat salah, layaknya dalam keluarga aku mau ditegur dan diarahkan dengan kasih, tanpa membuatku merasa dipermalukan atau diperlakukan seperti orang bodoh sedunia. Jika aku masih belum bertobat, aku mau dipukul dengan tongkat supaya hilang bebalku, tapi please..dengan penjelasan yang bisa aku cerna

Jika aku sedang jatuh, layaknya saudara aku ingin ditolong, didukung, hingga aku bisa berdiri kembali untuk melakukan tugas-tugasku. Bukan digosipin, bukan dihakimi, juga bukan didiagnosa sedang menderita “dosa” apa.

Jika aku menghilang, ada yang mencariku dengan cinta  bukannya sibuk menganalisa penyebabnya lalu menjadikannya cerita di belakang punggungku. Cerita yang mencoreng aib bagi mukaku. Ahai…taukah kamu? Dinding dan bangku gereja itu bertelinga juga bermulut, hingga kabar buruk yang tersebar bisa kembali ke korban lho.

Aku lebih rela ditegur dengan nyata, daripada dicium dengan ciuman yang palsu. Dan lebih suka mengerjakan tugas-tugas dengan baik daripada duduk berdebat ratusan teori, lalu berakhir dengan hati yang pahit. Karena masing-masing ingin tampak pintar. (pepesan kosong kan tidak membuat kenyang? Heleh!)

Ku rasa kurang lebih seperti itu gereja idamanku.

“Apakah kau sudah menemukan Gereja yang seperti itu, Sob?”Tanya temanku.

Aku hanya mengerling ke arah Yesus, tos dengan-Nya..lalu meninggalkan temanku itu. Membiarkan dia menebak jawaban atas pertanyaannya itu. ***

Sabtu, 09 Juli 2011

Ratu Pertiwi dan Satrio Piningit

Oleh : Riris

Ratu Pertiwi sedang gundah gulana. Matanya sembab, gelungan rambut hitamnya terurai tak beraturan. Kiaranya tampak kusam lama tergeletak di sudut peraduannya. Hatinya sangat perih, putera semata wayangnya sedang sakit keras.

Putera Ratu Pertiwi, bernama Pangeran Persada. Seorang Pangeran gagah perkasa dan bergelimang keelokan. Kharismanya termasyur hingga ujung-ujung dunia, Pesonanya adalah syair para Pujangga, keelokan parasnya adalah lagu para biduan. Tegap langkahnya adalah simfoni yang harmonis para pemusik. Puji-pujian yang indah baginya.

Pangeran Persada ini memiliki keistimewaan. Pada waktu-waktu tertentu dia bisa berganti kepala. Kepala-kepala yang bergantian di tubuhnya tak membuatnya dilupakan orang. Namun sayang, belakangan ini ketika berganti kepala baru, tubuhnya berontak melawan.

Bulu-bulu kakinya meronta-ronta bersekongkol melakukan perlawanan. Masing-masing hendak beranjak dari tempatnya tumbuh dan tertanam. Itu belum seberapa. Sekarang tangan dan kakinya berebut ingin menjadi kepala. Sehingga kaki menendang-nendang kepalanya tanpa henti, tangan menampar kepalanya terus menerus. Pangeran Persada tak sanggup mengendalikan tubuhnya sendiri.

Pertengkaran anggota tubuh sang Pangeran Persada makin menggila. Entah bagaimana awalnya, semua anggota tubuhnya kini bermulut juga bersuara lantang. Setiap hari anggota tubuhnya bertengkar hebat. Riuh rendah suaranya kalahkan erangan Pangeran Persada.

Para Tabib di istana tak ada yang sanggup menemukan penyebab sakitnya. Ramuan pusaka yang selama ini mujarab sekalipun tak mampu mengurangi penderitaan Pangeran Persada

Ratu Pertiwi tak kuasa menahan kepedihan, isak tangisnya tak bisa dibendung lagi. Airmatanya terus menerus mengalir. Tiba-tiba saja dia teringat Sahabat-nya. Satrio Piningit namanya.

Satrio Piningit adalah Putera Tunggal Raja Semesta. Dia adalah kesatria yang sakti mandraguna. Ditangannya diletakkan segala kuasa untuk menghidupkan dan mematikan, mengadakan dan meniadakan, merendahkan juga meninggikan. Nama Satrio Piningit ini sudah tersohor di seantero bumi.

Sekalipun memegang kekuasaan tertinggi di atas segala kerajaan, dan pedang keadilan selalu terselip di pinggangnya, kegemaran Satrio Piningit ini adalah menaburkan kedamaian. Mengajarkan pengampunan, juga menyulut cinta kasih di semua tempat.

Senang menjelajah dan berbuat kebaikan. Mencelikkan yang buta, menyembuhkan yang kusta, membuat yang timpang berjalan bahkan melompat. Dimana Satrio Piningit berada, disana tercipta banyak sekali keajaiban.

Maka Ratu Pertiwi mengutus para utusan untuk menjemput sang Satrio Piningit. Dan jawaban yang diberikan adalah,”Tunggu ya?! Masih banyak yang harus kukerjakan di sini. Aku pasti akan berkunjung ke kerajaan Ratu Pertiwi, jika semua urusanku di sini sudah selesai.”

Ratu Pertiwi bersabar menantikan kedatangan Satrio Piningit, sebagai sahabat dia sudah sangat mahfuz dengan kebiasaan Satrio Piningit yang selalu sibuk untuk menolong banyak orang. Ratu Pertiwi percaya Satrio Piningit pasti akan menolongnya.

Keriuhan kembali terdengar dari kamar Pangeran Persada, kini tangan kirinya berusaha memantik api membakar hati sang Pangeran. Sepuluh dayang yang merawatnya kewalahan menahan pemberontakan anggota tubuh Pangeran Persada.

Pesona Pangeran Persada seolah lenyap. Luka-luka ditubuhnya menebarkan bau anyir. Dan keperkasaannya menyusut dalam daging dan tulangnya. Erangan demi erangan keluar dari mulutnya. Suaranya makin pelan tak berdaya.

Ratu Pertiwi tak sanggup menyaksikan penderitaan puteranya. Namun dia tetap bersabar untuk merawat dan mendampinginya. Ratu Pertiwi hanya menjauh dari Pangeran Persada tatkala dia harus menghindari pukulan tak terkendali dari tangan dan kaki Pangeran yang masih juga ingin menggantikan kepala Sang Pangeran.

Dayang-dayang perawat istana banyak yang mengundurkan diri karena tak tahan dengan bau busuk tubuh Pangeran Persada. Kehidupan berkesenianpun terhenti. Tak ada lagu-lagu biduan yang lembut untuk melepaskan lelah dan kepenatan, tak ada musik yang ditabuh halus, tidak jua musik yang riang terdengar. Negeri Ratu Pertiwi senyap seakan tidak berpenghuni. Bau anyir tubuh Pangeran Persada membuat lumpuh semua aktivitas negeri. Seluruh rakyat memilih untuk berdiam diri di rumah. Membiarkan sawah, ladang, juga ternak terlantar.

Kemampuan Pangeran Persada untuk bertahan sudah sampai di titik nadirnya. Kini mulut-mulut di anggota tubuhnya tidak lagi berdaya untuk berteriak, tangan dan kakinya lunglai tak mampu lagi menendang ataupun menampar.

Dalam kesenyapan, sampailah Pangeran Persada pada takdir yang memutuskan untuk kembali ke haribaan Raja Semesta. Sedu sedan Ratu Pertiwi meledak memenuhi negeri, tangisan para dayang yang setia terdengar keras. Jantung kota seakan ikut berhenti bedenyut. Duka menggelayut, bendera perkabunganpun dikibarkan.

Di hari ketiga meninggalnya Pangeran Persada, datanglah rombongan Satrio Piningit di kerajaan Ratu Pertiwi. Melihat bendera perkabungan di seluruh negeri, mengertilah Satrio Piningit bahwa Pangeran Persada sudah tiada.

Maka bergegaslah Satrio Piningit menjumpai Ratu Pertiwi. Ketika dia bersama rombongan sampai di kerajaan, bersegeralah Ratu Pertiwi menemuinya. Tersungkur di kaki Satrio Piningit, melepaskan tangisannya di sana, dan berkata sendu,”Satrio, andaikata waktu itu kamu datang, pastilah dia sembuh. Kini semua sudah terlambat!”

Tidak ada kemarahan dari Ratu Pertiwi, dia menerima takdir Pangeran Persada dengan hati yang ikhlas. Keikhlasan Ratu Pertiwi, juga tangisannya meluluhlantakkan hati Satrio Piningit. Maka mengangislah Putra Tunggal Raja Persada, dengan lembut dibangunkannya Ratu Pertiwi dari sujudnya dan berkata,”Dimanakah kau makamkan dia? Aku mau membangunkannya!”

“Satrio, sudah tiga hari yang lalu dia meninggal, selain banyak luka di dalam jasadnya bukankah dia sudah membusuk dan pasti baunya sangat menyengat?”jawab Ratu Pertiwi

“Percayalah kepadaku, Ratu! Bukankah Ayahanda Raja Semesta sudah memberikan segala kuasa kepadaku? Bukankah dengan kuasa itu Aku sanggup mengadakan dan meniadakan? Menghidupkan dan mematikan bukanlah hal yang sulit bagiku. Bukalah kuburnya!” Perintah Satrio Piningit.

Adapun makam Pangeran Persada terbuat dari Goa Batu, ditutup batu besar untuk menghindari tercemarnya tanah pertiwi dari sakit aneh yang dideritanya. Juga tutup goa yang dari batu untuk menutupi bau busuk dari tubuh Pangeran Persada.

Maka Hulubalang memerintahkan para prajurit untuk mengangkat batu penutup makam itu. Para hadirin menutup hidungnya. Mereka ingin menyaksikan apakah Satrio Piningit mampu membangkitkan Pangeran Persada?

Kesangsian rakyat membuat Satrio Piningit masygul, namun rasa asih dalam hatinya membuat Satrio Piningit tetap melakukan tugasnya. Ketika kubur dibuka, dengan suara yang lantang dan berwibawa Satrio Piningit berkata,”Pangeran Persada, bangunlah!!”

Semesta diam, angin berhenti berhembus, burung-burung menghentikan kicauannya, senyap sejenak semua seakan tersentak mendengar suara yang penuh kuasa itu. Dan......terjadilah keajaiban, tubuh Pangeran Persada yang sudah hancur pulih seketika. Bau anyir dan busuk lenyap, dan Ruh pun datang kembali pada jasad yang sudah dipulihkan. Dengan kaki dan tangan yang masih terikat kain kafan, Pangeran Persada bangkit dari kematiannya.

Sukacita melanda, tempik sorak membahana di seluruh negeri. Kesenian hidup kembali, syair, sajak, lagu, musik, juga kegirangan memenuhi negeri pertiwi. Kembali Ratu Pertiwi bersujud di kaki Satrio Piningit.

“Segala Puji bagi Satrio Piningit, tak ada kata terlambat. Karena segala kuasa sudah berada ditangan Satrio Piningit!!”

Satrio Piningit tersenyum, berlalu dari Negeri Pertiwi, melanjutkan perjalanannya untuk menebar cinta, kedamaian, juga keajaiban di tempat-tempat lainnya.***

Ide cerita : Yohanes 11
Indonesia ini sudah sakit parah, ilmu politik, hukum, ekonomi, juga pengetahuan lain tidak akan pernah mampu menyembuhkannya.
Hukum yang carut marut tidak akan bisa dirapikan dengan peraturan yang lebih keras
Hukuman tidak akan membuat orang jera melakukan kesalahan
Hukum tidak mampu membawa orang insyaf dari kesalahan dan kedurhakaannya
Negeri ini tetap membutuhkan orang-orang pintar dan hukum yang jelas. Namun di atas semua itu negeri ini butuh dilawat oleh TUHAN sendiri. Negeri ini..butuh pendoa-pendoa yang militan.
Karena keinsyafan tidak bisa diciptakan oleh peraturan, keinsyafan datang ketika Tuhan melawat umat-umat-NYA.
Berhentilah mencela pempimpin negeri ini, berhentilah bekomentar seperti orang yang paling bijak.
Mulailah berdoa bagi kesejahteraan negeri yang saat ini kita diami. God Bless You All.

Minggu, 13 Februari 2011

Purple Valentine

Waaah…sudah pagi lagi !!! Selamat pagi semuanya  selamat pagi Tuhan, selamat pagi matahari, selamat pagi anak-anakku yang ganteng-ganteng dan lucu-lucu. Selamat pagi teman-teman semua!! Apa kabar semuanya? Doaku kalian semua dalam keadaan sehat dan bahagia.

Haha…aku bersyukur sekali pagi ini masih bisa bangun dalam keadaan sehat, segar bugar tak kurang suatu apapun. Masih bisa merasakan kecupan mesra dari dua jagoanku. Masih bisa menyapa ramah tetangga-tetanggaku, juga tersenyum pada para bule yang sedang jalan pagi di Lingkar Mega Kuningan. Oh ya..hari ini juga aku masih bisa memandang iri kepada pasangan India yang sudah tua tapi tetap mesra, diam-diam aku mendoakan mereka agar mereka selalu bersama dalam keadaan yang sehat dan bahagia.

Hari ini sama seperti kemarin, matahari masih terbit dari ufuk timur tak ada yang berubah. Hanya saja aku berusaha menepati janjiku untuk mulai mengawali hidup dengan lebih bersemangat. Boleh kan?

Saya tidak mengingkari tentang lilitan kain kabung yang masih belum sepenuhnya terlepas. Juga abu perkabungan belum sepenuhnya tersingkir dari dahi saya. Tapi apakah itu berarti saya tidak bisa menikmati hidup dalam limpahan kasih sayang lagi?

Tidak, setiap hari yang saya jalani bersama dengan Tuhan, adalah hari yang penuh dengan limpahan rahmat dan kasih sayang. Tuhan benar-benar menepati janji-Nya untuk tidak membiarkan atau meninggalkan saya. Melalui sentuhan langsung-Nya, melalui sentuhan dari teman-teman yang penuh kehangatan. Saya tidak pernah merasa sendirian.

Kehilangan kekasih secara mendadak memang sangat menyakitkan. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan saya baik secara mendadak ataupun perlahan. Seringkali saya tersungkur di bawah kakinya tanpa kata-kata. Membiarkan airmata berbicara kepada-Nya. Supaya setelah waktu bersujudku, aku sanggup tersenyum. Supaya setelah waktuku terjatuh di bawah kaki-Nya…aku sanggup menghibur orang yang putus asa. Supaya aku bisa memberikan pelukan hangat bagi anak-anakku, juga orang yang yang sedang lemah. Supaya aku bisa menyemangati mereka yang sedang sakit, menenangkan mereka yang gelisah.

Banyak teman yang bertanya,”Bagaimana bisa kamu begitu kuat?”.. Ooh..tidak teman, aku tidak kuat, aku juga bukan orang yang sangat tegar. Kalau kau ingin tau betapa rapuhnya aku, datanglah kepada Tuhan….perhatikan di jumbai Jubah-Nya..ada bercak-bercak bekas airmataku yang tercurah..meluber dari kirbat yang digunakan-Nya untuk menampung setiap tetes airmataku.

Mungkin kau bertanya,”Bagaimana kau yang mengaku rapuh bisa berbuat seperti orang yang kuat?” “Hey..hey…aku dikuatkan-Nya melalui doa-doa kalian. Melalui kesediaan tulus kalian menemaniku entah melalui YM, SMS, Kiriman-kiriman di saat Natal, Juga sapaan di waktu-waktu senggangmu! Makasih ya? Karena kalian sudah mau menjadi saluran kasih sayang Tuhan bagiku!”

DIA benar-benar menepati janji-Nya. Membereskan hal-hal yang tak sanggup saya bereskan. Menemani saya setiap waktu, dan mengijinkan saya melihat tangan yang menggengam saya di alam yang tak terlihat. 

Dia memberikan kepadaku Malaikat-Malaikat yang bisa menyentuhku. Yang bisa mengajakku tertawa saat duka mengajakku untuk murung. Yang mengingatkanku untuk terus optimis ketika kepedihan mengajakku menjadi pesimis. Yang ikut memperhatikan nasibku hingga aku menjadi lebih sanggup menghadapi hidup kesendirianku.

Ah…terlalu banyak berkat yang Tuhan berikan kepadaku dan anak-anak… terlalu banyak. Dan untuk itu aku bersyukur dan bersyukur. Aku memang masih memerlukan waktu untuk menata hidupku.

Perasaanku masih sering tiba-tiba tak menentu. Airmataku masih sering tiba-tiba bergulir jatuh. Tapi aku bersyukur punya Tuhan yang baik dan memeliharaku. Aku bersyukur punya malaikat-malaikat yg bisa kusentuh…(anak-anakku, pembantu-ku, para atasanku, teman-teman sejawatku, teman-teman sepelayananku, teman-teman milis yang selalu berapi-api, teman-teman blogku yang luar biasa penuh cinta)..hm..kalian sungguh berkat yang tidak ternilai harganya.

Hari ini….aku bersyukur, bisa menepati janji mengenakan dresscode yang disepakati kantor (merah atau pink) untuk merayakan Valentine Day. Aku bersyukur berhasil mendapatkan semangat baru untuk melaju di atas Vario Techno merahku.

Hari ini..dalam damai dan kuatku, aku ingin menyampaikan,”Selamat Hari Valentine (bagi yang masih mau merayakannya), semoga setiap hari adalah hari kasih sayang bagi kita semua!”

Selamat menikmati kasih sayang Tuhan yang senantiasa melimpah atas kita semua. Bagi yang masih memiliki pasangan, Cintai dan hormati pasanganmu selalu..karena kalian tidak pernah tahu sampai kapan kalian bisa terus bersama-sama. Aku berdoa kalian semua panjang jodoh, sehingga bisa puas menikmati perjodohan yang Tuhan berikan hingga usia tua.

Dengan Penuh Cinta, tulisan sederhana ini dipersembahkan untuk : Tuhan Yesus (My True Valentine), Jefri Jolly Kolondam (yang lagi hepi-hepi di Surga  Hai Darling, Happy Valentine ya? ), Farrel dan Joshua (kalian adalah salah satu alasan bagi mama untuk tetap hidup dan waras),Kakak-kakakku (yang sangat baik dan hangat), Teman-teman (Gereja,Kantor, Milis, Blog) yang setia memantau keadaan kami memberikan perhatian yang cukup sehingga saya tidak merasa sendiri. Cinta kalian semua…membuat ..setiap hariku..adalah Hari Kasih Sayang. HAPPY VALENTINE DAY!!

Kamis, 23 Desember 2010

Natal Itu Apa?


Natal, adalah sebuah bingkisan cinta Maha Dahsyat
dibungkus dengan kain lampin yang tidak semarak
Natal ada, sebagai bukti cinta Tuhan yang ingin manunggal
dengan manusia yang berdosa

Natal adalah pernyataan :
Bahwa Tuhan mencintai semua bangsa di dunia
yang berbeda suku, ras, dan agama
yang berbeda warna kulit juga tekstur rambutnya
yang berbeda bahasa juga intonasinya

supaya semua orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa
melainkan beroleh kehidupan yang penuh harapan
baik kini juga kekekalan


Selamat Natal 2010
Dan
Tahun baru 2011

Semoga damai dan sukacita natal melimpah atas kita semua

Sabtu, 18 Desember 2010

Surat Di hari Yang Keseratus

Dear Jefri,
Menghitung bilangan hari kesendirianku. Kupikir dengan bertambahnya bilangan waktu membuatku dengan mudah menghapus jejakmu. Ternyata salah! Semakin banyak bilangan hari yang kusebutkan, semakin banyak kenangan memunculkanmu dalam mimpi-mimpiku.

Pagi tadi, untuk yang kesekian ratus kali Joshua anak kedua kita menanyakanmu. Aku hanya tersenyum getir menahan pilu. Farrel, kakaknya segera memelukku dan berkata,”Jangan sedih mama! Kan Papa sudah bahagia di Surga bersama Yesus?!” Aku mengangguk mengiyakan.

Pada menit berikutnya kedua anak itu membuka pintu menengadah ke langit dan berseru,”Selamat Pagi Papa…Selamat Pagi Tuhan Yesus!” aku acungkan jempol kepada mereka untuk memberikan apresiasi atas sikap baiknya. Sekuat mungkin ku tahan airmataku.

Aku tidak akan menuntut mereka melupakanmu, sayangku. Karena bagi mereka, kamu adalah Papa terbaik yang mereka punya. Sapaan ramahmu disetiap pagi, membuat mereka ingin selalu menyapamu, juga Yesus. Dan setiap perlakuan manismu sudah membentuk mereka menjadi pribadi yang hangat dan bersahabat.

Mereka sangat mengidolakanmu, sama seperti kamu senantiasa membanggakan mereka kepada setiap orang yang kau temui. Potongan rambut cepakmu, gaya makanmu yang lengkap dengan sendok dan garpu.Juga caramu mencuci motor..mereka ikuti.

Dan aku? Bagiku…kau bukan hanya suami yang baik. Kamu juga guru terbaik yang Tuhan berikan padaku. Darimu aku belajar bahwa menjalani hidup yang rumit ini bisa dengan sembari tertawa. Aku pernah kesal, ketika menurutku kamu terlalu santai menghadapi masalah besar yang waktu itu menyerang kita.

Jawabmu,”Lho..mengapa harus tegang?! Bukannya kita sudah berdoa dan meminta Tuhan menolong kita? Ada banyak cara Tuhan menolong kita, namun ada dua garis besar yang bisa kita percayai. Yang pertama : Tuhan akan memberikan IDE agar kita bisa menemukan jalan keluar ATAU Tuhan langsung memberikan jalan keluar bagi masalah kita!”

Aku tertampar saat itu juga. Aku yang seringkali mengaku pelayan doa tapi tidak bisa mengimani janji Tuhan dengan tenang dikala badai. Aku paham dengan perkataan sederhanamu itu, bahwa ketika kita meminta sesuatu kepada Tuhan, bagian kita adalah percaya bahwa apa yang kita minta pasti dikabulkan dengan cara-Nya.

Itu adalah salah satu pelajaran di antara sekian banyak pelajaran yang Tuhan ajarkan melalui kamu. Pelajaran yang datang dari luar pemikiran biasa. Pelajaran yang membuatku lebih santai dalam menghadapi hidup yang luar biasa sibuk.

Selain menjadi guru doa…kamu juga menjadi guru memasak yang baik bagiku. Tak pernah sekalipun kamu mencela masakanku yang masih jauh dari rasa enak. Kalaupun mengoreksi, kamu mengoreksi dengan lembut tanpa membuatku malu.

Dan kamu…satu-satunya pria setelah bapakku..yang mengatakan aku cantik. Satu-satunya pria yang mencintaiku ketika aku bergaun anggun, dan tetap mengagumiku ketika aku memilih bercelana selutut dan kaus butut.

Ah…aku sudah tak sanggup lagi menceritakan hal2 indah bersamamu. Tulisan ini hanya untuk menyelamatkan kenanganku. Belum semua, sayang….belum…masih banyak…untuk kali ini..cukup sekian dulu. Asal kamu tahu..betapa berharganya engkau bagi kami.

….surat ini aku titipkan kepada Tuhan Yesus. Hanya DIA yang bisa memasukkannya dalam emailmu di sana!! Email di dunia ini tak sanggup menembus server Surga begitu kata-Nya ….

..Mengenang, 100 hari kepergian Jefri Jolly Kolondam..