Jumat, 16 November 2007

Christ Sahabatku

Tiba-tiba saja Christ muncul di ruang kerjaku menanyakan kabarku. Sebenarnya aku sangat merindukannya, tapi sekaligus ingin menghindarinya. Kami bersahabat cukup lama. Dan Christ adalah sahabat sejati yang tentu akan didambakan oleh setiap orang.

Christ : "Sibuk Ya? Kangen nich, sudah lama kita tidak berbincang. Biasanya kamu bawel sekali bercerita tentang hal2 seru atau yang kelabu dalam hidupmu. Tapi.. belakangan ini terasa ada jarak dalam persahabatan kita. Mengapa?

Saya : "Saya sedang tidak memiliki waktu Chris!". Walaupun saya sangat merindukanmu (cuma dalam hatiku..aku tak berani bicara terus terang kalau aku merindukannya) Aku juga tak berani bilang pada Christ kalau aku ingin menghindar sekalipun aku sangat membutuhkannnya.

Christ :" Ya, I Know !"

aku tahu Christ sedih, tapi bagaimana ya? terlalu banyak kesalahan yang sudah aku buat, terlalu banyak pergeseran nilai yang pasti membuat Christ sedih. Dan saat ini terlalu banyak beban, tekanan, masalah, yang membuatku kehilangan selera ngobrol dengan Christ. Aku malu, sulit sekali hidup sepadan dengan Christ. Dan aku malu kalau harus minta tolong pada Christ dengan semua permasalahan yang aku hadapi saat ini. Itu sebabnya aku memilih menghindari daripada menceritakan semua yang saat ini membatu dalam dadaku. Semua kekacauan ini bukan kesalahan Christ, tapi murni kesalahanku, dan Christ tidak harus bertanggungjawab atas semua kekacauan yang aku buat.

Christ : "Ohh, itu?" katanya sambil tersenyum pilu

Aku terhenyak...Lupa kalau Christ bisa mendengar apa gelora hati ku. Aku menatapnya nanar, ingin marah. Tapi begitu melihat sorot mata lembut Christ....hatiku hancur berkeping2. Mata lembut itu .. mata yang merindukanku. Pemilik mata lembut itu... penolongku yang aku tinggalkan di geladak bahteraku. Pemilik mata lembut itu Sahabat yang dengan sengaja aku lupakan. Kepada pemilik mata lembut itu aku telah berkhianat, dan tak mampu lagi aku berhadapan dengannya. Aku sudah mencoba menghindarinya tapi tak bisa. Dalam setiap tarikan nafasku ada cintanya, dalam setiap detak jantungku ada janji setianya, dalam setiap gerak langkahku ada dalam pandangan matanya. Aku... sesuatu yang dihargainya begitu mahal.

Christ membentangkan tangannya, dan aku tak kuasa menolak pelukan hangat itu. Air mataku yang telah mengkristal sekian lama... mencair sudah dalam kehangatan cintanya.

"Hey, sudah berapa lama kita bersahabat? Mestinya kamu tau, kalau aku mengasihimu disaat kamu berhasil ataupun gagal. Disaat kamu taat ataupun tidak, di saat hidupmu indah ataupun buruk. Aku mengasihimu. Lalu mengapa kau memilih untuk menghindariku karena kesalahan2mu dan begitu banyaknya masalahmu? Adakah yang terlalu banyak bagiku sehingga tak ada yang bisa kulakukan? Adakah yang terlalu besar bagiku sehingga aku tak bisa menolongmu?

AKU merindukanmu bercerita seperti biasa, tentang suamimu, anakmu, pergumulanmu, kesalahanmu. Kamu lupa itu?

Kamu bisa saja menghindariku, tapi ada satu hal yang harus kamu ingat dan patrikan dalam hatimu. BAHWA AKU TAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU TERLEPAS DARI GENGGAMANKU. Karena kamu,... PERMATA HATIKU.

Mari, datanglah padaku kapanpun kau mau. Ceritakan padaku. Jangan diam. Aku menyukai kebawelanmu."

Christ mengusap air mataku, dan membiarkan bibirku bergetar haru berucap ,"Thanks Christ!" Dia tersenyum, menepuk bahuku. Dan gumpalan beban dalam hatikupun mencair berganti kelegaan.

Christ : adalah Pribadi Yang menenunku sejak aku di rahim ibuku. Pribadi yang membayarku dengan bayaran yang mahal hanya untuk menjadi sahabatku. Christ adalah......................yang pernah berkata :"Marilah kepadaKU semua yang letih lesu dan berbeban berat. AKU akan memberikan kelegaan kepadamu."