Selasa, 17 November 2009

Mengenal bukan Mengira-Ngira

5 komentar
Suatu hari di peradilan Negeri kekekalan, terjadilah percakapan antara Manusia (Terdakwa) Iblis (Pendakwa) dan Tuhan (Hakim Sekaligus Pembela) :

Iblis : “Tuhan seru sekalian alam, saya menuntut manusia ini menjadi teman abadi saya di Neraka. Karena selama hidupnya telah melakukan penyembahan berhala dengan cara meminta pertolongan kepada dukun dan dewa-dewa asing!” Bukankah tertulis :

Ephesus 5:5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Demikian tuntutan yang dia bacakan bagi arwah manusia yang sedang di meja peradilan Negeri kekekalan.

Lalu diputar-Nya lah video rekaman kehidupan. Benar di sana manusia tersebut memang melakukan dosa yang didakwakan Iblis kepadanya.

Tuhan : “Melihat rekaman hidupnya yang tidak sempat mengakui dosanya dan bertobat, AKU mengabulkan tuntutanmu, Iblis!”

Manusia : “Tunggu dulu, Tuhan !! Jangan sampai ANDA salah memutuskan, rasanya ada yang terlewat dalam menilai video rekaman hidupku ini!”

Tuhan : “Pembelaan apa yang ingin kau ajukan, Manusia?”

Manusia : “Tuhan, semasa hidupsaya memang sering ke dukun untuk meminta pertolongan. Saya juga sering mengunjungi dewa-dewa asing tak dikenal. Karena menurut saya itu tidak salah.”
“Menurut pendapat saya, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk memberikan pertolongan termasuk para dukun dan dewa-dewa asing itu”
“Jadi menurut saya (lagi menurutnya) apa yang saya perbuat tadi tidak bisa dikategorikan sebagai dosa yang membawa saya kepada kebinasaan. Tidak bisa, Tuhan!! Mohon ditinjau ulang!”

Tuhan : “Lho, apa kamu tidak mendengar pasal dan ayat yang dituntutkan Iblis tadi?”

Manusia : ”Iya, saya mendengarnya. Tapi kan saya tidak tahu kalau ada ayat yang menuliskan demikian? Saya bertindak berdasarkan perasaan dan keyakinan saya seperti yang saya sebutkan di atas!”

Tuhan : “Mengapa kamu sampai tidak tahu bukankah semua sudah tertulis dalam kitab suci, dan bukankah seringkali sudah didengungkan oleh hamba-hambaku di atas mimbar? Duhai manusia, hokum-Ku bersifat Mutlak dan Kekal tidak ada satupun yang bisa membatalkannya. Sekarang, enyahlah kamu dari hadapan-Ku!”

~ ! ~
Ilustrasi di atas hanyalah mewakili satu dari sekian banyak dosa yang tampaknya bukan dosa. Sesuatu yang tampaknya abu-abu karena menurut nalar atau pemikiran kita bisa dibenarkan.

Masih banyak hal lain yang tampak begitu rancu, sampai-sampai ada pernyataan seperti ini,”Dosa itu hanya TUHAN yang bisa menilainya. Kamu tidak bisa menilai apakah perbuatanku DOSA atau tidak bukan!”

Jika pernyataan tersebut adalah untuk menyatakan bahwa hanya Tuhan yang berhak menghakimi, maka saya setuju. Namun jika manusia sampai tidak tahu apakah yang diperbuatnya itu berdosa atau tidak. Maka sesungguhnya dia sedang mengira-ngira sebuah jalan untuk suatu tujuan yang masih semu juga.

Pendapat, perasaan dan keyakinan kita bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Bersifat subyektif dan tidak bisa dijadikan suatu pembelaan jika kelak kita ada di hadapan tahta-Nya..

Namun sayang sekali, seringkali kita memilih untuk berjalan berdasarkan pendapat, keyakinan dan perasaan kita tentang kebenaran tanpa mencari dasar yang menjadi pijakannya yaitu Firman Tuhan dalam terang pimpinan Roh Kudus.

Ketika kita mengira-ngira apakah sesuatu itu berkenan atau tidak berkenan kepada Tuhan, sebenarnya kita sedang berjalan dengan kebenaran yang kita ciptakan sendiri dan belum tentu sesuai dengan kehendak Allah. Dan kita tentunya tahu, jika kita berjalan di jalan yang tidak dikehendaki-NYA maka akhir dari perjalanan hidup kita adalah di dalam penghukuman

Pro 14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Itulah sebabnya, perlu bagi kita untuk mengenal siapa TUHAN yang sebenarnya. Bukan dari kata orang, bukan dari hasil analisa kita (yang belum tentu benar), bukan pula dari penciptaan karakter Tuhan yang kita buat berdasarkan pendapat pribadi. Anda tahu, ini bisa berakhir kepada kebinasaan.

Hos 4:6 Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.

Kenali – lah TUHAN dari surat-surat cinta-NYA…di dalam Alkitab. Kenalilah DIA dalam persekutuan pribadi dan persekutuan jemaat raya. Kenalilah DIA ketika masa sukar datang menindis kita. Juga dimasa suka ketika hidup terasa ringan bersayap.

Pengenalan akan Tuhan itu sebuah proses yang berlangsung terus menerus. Dan diperlukan sikap yang konsisten didalam membangun hubungan pribadi dengan-NYA. Dibutuhkan kerelaan menyisihkan waktu terbaik untuk berdoa, kesediaan untuk menyediakan waktu terbaik untuk menyelidik Firman-NYA, dan ketaatan yang penuh di bawah pimpinan Roh Kudus.

Jika hidup manusia adalah sebuah perjalanan menuju kepada kekekalan, maka :
• Doa kita adalah sarana komunikasi untuk mendapatkan petunjuk dari Sang Pemilik Kekekalan itu.
• Alkitab adalah PETA yang menunjukkan jalan mana yang mesti kita tempuh, juga pelita bagi hati kita.
• Roh Kudus adalah Penolong bagi kita agar kita senantiasa berkemenangan

Semakin kita intens dalam berdoa, menyelidik Firman, dan akrab bergaul dengan Roh Kudus percayalah bahwa kita akan mengenali TUHAN melalui kacamata yang benar. Dan kita akan dipimpin-NYA melalui jalan-jalan yang benar bukan sesat.

Tuhan dan Firman-NYA adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mencintai Tuhan tapi tidak mencintai Firman-NYA. Karena Tuhan dan Firman-NYA dalah SATU

Joh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Perhatikan kalimat ini : dan Firman itu adalah Allah. Firman = Allah, Allah = Firman. Saya tidak mengatakan Alkitab itu adalah Allah, saya mengatakan FIRMAN itu adalah ALLAH (mohon koreksi jika penafsiran saya salah – khususnya kepada yang berkompeten di bidangnya)

Mungkin seorang pembaca akan bertanya di dalam hatinya,”Ris, kamu sudah sukses mengenal Allah?’

Saya akan menjawab dengan jujur,”Belum sepenuhnya mengenal. Bahkan seringkali saya terkaget-kaget jika mendapati karakter-NYA yang di luar dugaan saya sebagai manusia. Masih sering terkaget-kaget ketika mendapati bahwa apa yang selama ini saya anggap benar, ternyata salah besar!”

Ketika saya menulis ini pun, ada seruan lembut di hati saya,”Masihkah kamu bergairah menyelidiki Firman itu, Riris?”

Ketika saya menulis ini..ada pertanyaan lembut di hati saya,”Masihkah kamu memiliki hati yang rela untuk dididik, diajar, dan dipimpin oleh Roh Kudus?”

Ketika menulis ini sebenarnya saya pun sedang diajar untuk seperti yang saya tulis. Saya menyadari siapa saya. Bahwa saya manusia yang masih dalam proses penyempurnaan namun masih jauuh dari sempurna. Dan setiap ayat Firman Tuhan yang saya pakai dalam tulisan saya ibaratnya pedang bermata dua…bukan hanya untuk teman-teman pembaca, tapi juga untuk saya yang menulis :

Ibrani 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Dan saya rasa setiap umat-NYA yang belajar melayani DIA akan bertekad seperti Rasul Paulus :

1Co 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Mudah-mudahan sedikit “latihan” menulis saya kali ini bermanfaat bagi teman-teman semua. Sehingga kita makin mengenal Allah secara pribadi bukan mengira-ngira atau berpijak dari pendapat orang lain, melainkan menyelidik dan mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ayub 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Mudah-mudahan kita tidak lagi mengira-ngira kebenaran, tapi menemukan kebenaran yang sesungguhnya .. hidup dan menghidupi kebenaran itu senantiasa.

Roh Kudus kiranya memberikan pencerahan dan penerangan ini lebih jauh kepada kita semua, melebihi segala akal, daya dan kemampuan saya untuk menyampaikan maksud dalam tulisan ini. Amin

Sabtu, 14 November 2009

Ini tentang mimpi, kawan !

3 komentar
Ini tentang mimpi, kawan
yang berserak di kotak maya
terhambur dalam buaian waktu

aku tengah memungutinya, seperti berlian
lalu menguntainya dalam benang harapan
ku menguncinya dengan doa
meyakininya menjadi nyata

ini tentang mimpi
sedari kecil
yang pernah kandas dihempas ketidakberdayaan
seolah sirna bagai uap

mimpi-mimpi itu datang lagi
mengusik kenyamananku
tidak membiarkan aku diam
membiarkannya musnah lagi

ini tentang mimpi
yang ku tak tahu hendak dimulai dari mana
untuk membangunnya
menjadi jembatan di alam nyata

ini tentang mimpi
yang seperti api di bawah tungku air
membuat darahku mendidih dan meletup-letup
membuat gelembung semangatku membuncah
dan napasku sengal

mimpi...mimpi yang kubangun dan pernah kandas
kini datang lagi
------
November 14, 2009
-----"

Senin, 09 November 2009

Bu Guru

12 komentar
“Sedang membuat apa, Bu?” tanyaku ketika melihat Ibuku sedang asyik memotong-motong kertas manila warna merah muda.

“Ibu sedang membuat kartu bermain untuk kita berdua. Kamu mau kan bermain bersama ibu?”

“Waah?? Kartu bermain? Untuk kita bermain, Bu? Tentu aku mau bermain bersama Ibu. Aku kan senang bersama-sama Ibu!”

“Baik kalau begitu, kamu jangan ngerusuhi (mengganggu) ibu dulu, supaya kartunya bisa segera selesai, ya? Sana gih, kamu main bersama mbak Alis dan Dik Guntur di rumahnya!”

Saya pun segera pergi meninggalkan ibu bermain bersama tetangga saya dengan harapan kartu bermain yang ibu buat bisa segera dipakai bermain.

Minggu pagi, setelah saya selesai mandi dan sarapan ibu pun mengajak saya bermain kartu buatannya.

“Hari ini, Ibu akan mengajakmu bermain membaca kartu. Kamu hapalkan ya? Ini A..yang ini I..U..E..dan O!”

Setelah berkali-kali diminta menghapalkan, Ibu pun menguji ingatan saya dengan cara mengacak susunan kartu-kartu yang bertuliskan huruf-huruf vokal tersebut. Lalu pelan-pelan ibu menuntun tangan saya untuk berlatih menulis.

Keesokan harinya kartu-kartu tersebut dipasangkan dengan huruf konsonan (huruf mati) dan beginilah cara ibu mengajar. Beliau tidak pernah menyebutkan huruf konsonan dengan cara Be, Ce, De…melainkan Beh..Ceh..Deh..

“Riris, kalau ‘Beh’ digabungkan dengan huruf ‘A’, maka bunyinya ‘Ba’, jika digabungkan dengan huruf ‘I’ maka bunyinya ‘Bi’…dan seterusnya”

Demikianlah cara Ibu mengajar saya membaca waktu itu, hingga akhirnya sebelum TK, saya sudah lancar membaca dan menulis.

Seingat saya, Ibu tidak pernah memaksa saya untuk belajar beliau selalu mengajak belajar sambil bermain. Sehingga proses belajar berlangsung begitu menggembirakan tidak menekan perasaan. Alat-alat peraganya pun hasil kerja tangannya sendiri. Bukan hasil browsing di intenet dan belanja online (karena waktu itu internet belum ada di daerah kami), juga tidak membeli di toko. Begitu sederhana, namun ilmu yang diturunkannya mudah sekali diserap. Jika saya mulai tidak focus biasanya ibu menyudahi acara belajar sambil bermain itu

Ibu saya seorang guru SD, sekalipun pada akhir jabatannya beliau adalah seorang Kepala Sekolah SD, namun saya lebih senang menyebut beliau seorang guru. Di lingkungan tempat saya tinggal beliau dikenal sebagai orang yang sabar dalam menghadapi murid-muridnya. Tak jarang jika mendapati murid yang tertinggal karena daya tangkapnya yang kurang, maka tak segan memberikan pelajaran tambahan Cuma-Cuma di rumah kami..…kata ibu bayaran yang sangat tak ternilai adalah ketika anak-anak yang diajar bisa menjadi lebih mengerti, lebih bisa menangkap pelajaran dan lebih percaya diri.

Mengingat di era 80an di lingkungan kami banyak anak yang terlahir dari orang tua yang buta huruf, rasanya tak mengherankan jika banyak muridnya yang membutuhkan tambahan pelajaran di rumah khusus untuk membaca dan menulis. Suasana rumah kami waktu itu seringkali ramai dengan tingkah polah murid Ibu yang begitu antusias belajar membaca. Dan biasanya seusai memberikan pelajaran tambahan Cuma-Cuma itu wajah ibu kelihatan lebih berseri karena puas. Puas karena para murid sudah bisa membaca dan menulis, puas karena pengorbanannya tidak sia-sia.

Tak terhitung betapa banyak muridnya yang sudah menjadi orang penting di dalam jawatan pemerintahan.

Juga tak jarang ibu mendapatkan diskon yang lumayan besar jika berbelanja. Pernah beliau bertanya,”Kok diskonnya akeh emen, mengko sampeyan rugi lho! Wis sak mene wae!!” (kok diskonnya banyak banget, nanti kamu rugi lho..sudah segini saja..) kata ibu sambil menambahkan sejumlah harga.

Sang pemilik toko atau kios pun menjawab,”Bu, apa ibu lupa dengan saya? Saya kan yang dulu ibu ajar di SD 04? Itu lho bu, yang tidak bisa membaca dengan lancar, tetapi karena ibu telateni di rumah saya jadi lancar membaca dan menulis. Biarlah bu, izinkan saya memberikan diskon segitu sebagai tanda hormat saya!”

Begitu selalu..jika bertemu dengan murid-muridnya beliau selalu mendapatkan perlakuan khusus.

Ibu tak segan mencemplungkan kami ke dalam wadah-wadah kesenian untuk mengasah bakat tersembunyi yang kami miliki. Minimal, kelima anaknya mengalami les tari tradisional. Khusus saya, ibu gemar sekali menjajal saya dalam banyak bidang. Mulai dari menari, menyanyi, mengarang, bahkan teater. Jadi saya pun sempat mencicipi les tari tradisional, les menyanyi keroncong, dan teater.

Banyak hal baik yang beliau wariskan kepada kami anak-anaknya. Juga kepada lingkungan yang disentuh oleh kehadirannya.

Yang membuat saya heran sampai saat ini adalah, jika saya pulang kampung. Banyak yang masih mengenali saya sebagai puteri ibu guru lho! Saya tidak yakin mereka mengingat dan mengenal saya..mungkin mereka mengira-ngira karena garis wajah dan suara saya yang mirip dengan ibu.

Karena mereka selalu bertanya demikian,”Mbak ini apa puterinya Bu Guru?”

Dan ketika saya menjawab “Iya, benar! Saya puterinya Bu Guru!” maka fasilitas yang mereka berikan kepada ibu otomatis saya nikmati..heheh..(sering-sering aja, saya dikasih diskon gede hehe)

Yang membuat saya terharu adalah mereka selalu menceritakan perbuatan baik ibu yang mana saja yang mereka ingat dan kenang. Yang membuat saya bangga jika saya bertemu dengan mantan atasan-atasan ibu adalah ketika mereka mengatakan bahwa ibu adalah bendahara yang jujur dan teliti; tidak ada satu sen pun yang terlewat dari catatan pembukuannya. Bahkan tim pemeriksa keuangan dari P&K (Pendidikan dan Kebudayaan) waktu itu sering dibuat berdecak kagum atas kelengkapan dokumen transaksi yang beliau bukukan.

Well, benar kata ibu,”Baik-baiklah kamu menjadi orang berlakulah jujur dan senantiasa menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga! Karena hal-hal itulah yang akan kamu bawa ke Surga. Hal-hal itulah yang akan membuatmu dikenang sepanjang masa”

Pro 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.

Ibu memang tidak tercatat sebagai seorang Pahlawan Nasional ataupun pejuang dengan berderet-deret tanda jasa. Namun semangat juangnya untuk mengentaskan murid-muridnya dari buta huruf dan kebodohan telah mengukir sejarah tersendiri di hati mereka yang pernah diajarnya. Dan kemurahan hatinya untuk berbagi telah membuat orang-orang yang ditolongnya merasa memiliki teman dan merasa berharga.

Saya pribadi bangga memiliki ibu sepertinya. Jujur, seringkali saya bertanya dalam hati, sanggupkah saya menjadi wanita sepertinya? Yang mengasihi dan menghormati suaminya begitu rupa dan berbuat baik di sepanjang hidupnya? Yang menjadi kebanggaan anak dan cucunya? Sanggupkah saya menyerap nilai-nilai indah yang ingin sekali dia wariskan?

Pro 17:6 Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.

(Mengenang enam tahun kepergian ibu ke pangkuan Bapa di Surga. Di tulis dengan cucuran air mata sedih, haru dan bangga…..2 Nop 2009 – 2 Nop 2003)

Senin, 02 November 2009

Mama Dei

11 komentar
Dia bukanlah seorang wanita karier, bukan pula seorang wanita yang menggondol gelar kesarjanaan apalagi master ini dan itu. Mama Dei, demikian sapaan akrabnya, adalah wanita biasa seorang ibu rumah tangga dan oma dari cucu-cucunya. Dia adalah mama mertua saya.

Sekalipun beliau bukanlah wanita karier dengan segala titelnya, tapi ada banyak hal unik dan penting yang bisa aku pelajari dari pribadinya. Sebagai seorang ibu, sangat menyayangi putra-putranya. Terasa sekali bahwasanya dalam berbagai kesempatan berusaha adil dengan kedua putranya. Sebagai seorang istri, beliau adalah wanita yang sungguh-sungguh melayani dan mengabdi kepada suami. Sebagai seorang oma, beliau adalah oma yang cerdas untuk cucu-cucunya. Sebagai anggota majelis gereja, beliau tetap menempatkan posisinya sebagai hamba yang siap sedia melaksanakan tugasnya.

Ketika pertama berjumpa (sebelum kami menikah), sama sekali tidak tampak usaha nya untuk membuat jarak. Bahkan sebaliknya, sebagai calon mertua Mama Dei terasa sangat hangat dan bisa menerima saya apa adanya. Rasanya adeeem getoo. Ketakutan, kejaiman, bahkan jarak musnah begitu saja ketika kami ketemu. Langsung klik dan klop. Seperti teman asyik untuk diajak ngerumpi, belanja, sampai dengan curhat.

Ketika kami menikah, dan beliau sempat tinggal bersama kami ketika kelahiran anak kami yang pertama, tentunya beliau banyak melihat kekurangan saya sebagai menantu. Tapi sama sekali tidak memihak kepada anaknya jika kami berselilisih paham. Bahkan seringkali beliau memberikan pandangan2 yang mendamaikan. Ketika saya tersudut dengan pola pikir suami yang salah, beliau tampil sebagai pembela dengan cara yang lembut dan penuh damai.

Pokoknya jauh deh dari image2 mertua yang seram. Usut punya usut ternyata beliau itu memelihara saat teduh dengan cara yang simpel. Berdoa, baca firman, menghapal ayat dan praktek.

Pantaslah kalau beliau menjadi wanita kecintaan banyak orang, paling tidak : suaminya, anak-anak, mantu-mantu, juga cucu-cucunya. Pantaslah kalau roh yang lemah lembut itu makin tampak nyata dan membuat kami-kami ini segan untuk membangkang, karena beliau selalu bernaung dalam otoritas Allah. Sebelum bicara, sebelum menasihati, sebelum bertindak, beliau senantiasa menyertakan TUHAN. Tidak mengandalkan kepintaran yang pas-pasan. Tapi sungguh merupakan contoh nyata kehidupan yang mengandalkan Tuhan.

Saya berharap, bisa seperti beliau. Menjadi Istri dengan roh yang lemah lembut dan perkasa. Dimana hati dan pikiran dipenuhi hikmat untuk berkata-kata, entah itu menasihati, menghibur, ataupun mendorong orang lain. Saya juga rindu memiliki kehidupan yang menjadi suratan terbuka bagi banyak orang. Suratan yang menuliskan banyak hal yang baik dan patut dijadikan teladan

Mama Dei tetaplah manusia biasa yang masih jauh dari sempurna. Tapi keseriusannya memenuhi panggilan sebagai wanita bijak, cukup memberikan energi dan pengaruh yang positif bagi saya seorang aktivis gereja... untuk terus menerus melakukan koreksi atas kekurangan karakter saya.

Tuhan Yesus, terima kasih, Kau berikan aku mama mertua yang bisa menjadi alat pengajaranMU menjadi wanita yang Engkau kehendaki. Berkati beliau, supaya terus hidup dalam naungan kasihMU dan tinggal dalam otoritasmu dalam setiap jam dan waktu. Supaya bukan hanya kami2 yang merasakan dampak dari kehadiran Mu atas nya, tapi setiap orang yang dia sentuh boleh semakin mengenal kehendakMU dalam suratanMU yang terbuka

Mama Dei, terima kasih : sudah mau terima saya sebagai menantu, dan mau mengajari saya banyak hal tanpa mama ajari. Doakan saya, supaya saya benar-benar menjadi Kristen seperti mama. Hidup untuk Kristus dimanapun dan apapun panggilan saya

I Petrus 3 : 1-5
1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,


***

Senin, 26 Oktober 2009

Liputan Tentang Diri Sendiri, 10 Oktober

10 komentar
Mestinya tulisan ini diposting ketika kalender masih mendekati angka 10 Oktober 2009 yang lalu. Namun berhubung belum menemukan “mood” saya memilih untuk menundanya, hingga akhirnya saya tersadar ketika teman saya Donny Verdian menerima ucapan selamat atas kemenangannya di Pesta Blogger, dari salah seorang pembacanya; bahwa saya punya utang kepada diri sendiri untuk mencatat peristiwa yang agak penting itu. Hehehe..narsis sedikit yaa..

Tanggal 10 Oktober 2009 yang lalu, blog yang saya kelola memenangkan perlombaan di Christian Indonesian Blogger 2009 untuk kriteria “The Most Creative Blog Based On Writing Competition” adapun tema dari tulisan yang dilombakan adalah tentang kelahiran baru. Setelah melalui revisi tiga kali, maka terbitlah tulisan yang dilombakan dengan judul “Pencarian Pintu Surga” yang atas kehendak Tuhan, dewan juri memutuskan untuk memberikan kursi pemenang kepada saya. Hadiahnya cukup membuat terpesona..hahaha..hari giniii…tahu-tahu saya mendapat rejeki nomplok sebesar Rp. 5.000.000,- apa tidak terpesona?

Besarnya hadiah mungkin bagi banyak orang memang tidak terlalu material. Tapi bagi saya, penghargaan itu memacu semangat saya untuk terus kreativ dalam dunia tulis menulis. Penghargaan yang diberikan ini memberikan motivasi baru bagi saya yang menjadikan blog ini sebagai “mimbar maya” pelayanan saya.

Jika saya diminta mengucapkan terima kasih, maka :

Pertama-tama tentunya kepada Tuhan Yesus, yang di malam terakhir sebelum saya up load tulisan itu seolah-olah duduk di dekat saya dan mendikte kata demi kata, menciptakan scenario sehingga tulisan itu layak dianggap memenangkan kontes blogger Kristen.

Yang kedua, kepada Almarhumah Ibu saya yang pada tanggal 10 Oktober yang lalu (andai beliau masih ada) tepat berulangtahun yang ke 79. Happy B;day ya Bu! Aku tahu, engkau jadi salah satu cheer leader bersama para Malaikat yang menyemangati aku yang hampir putus asa malam itu…kemenangan ini adalah kemenanganmu juga, yang sedari kecil menggembleng aku untuk menemukan talentaku sesungguhnya…masih dalam pencarian, Bu, baru ketemu sedikit.. Terima kasih, sudah menjadi guru yang sangat baik buatku dan murid-muridmu. Aku beruntung menjadi anakmu, Bu! Miss you, Bu!

Yang ketiga, kepada teman-teman Blogger yang sudi mampir, meninggalkan atau tidak meninggalkan jejak di blogku. Tanpa kehadiran kalian aku pasti merasa pelayanan “mimbar maya” ini sia-sia belaka.

Yang keempat, kepada para Voter…sekalipun blog saya tidak memenangkan The Most Favorit Blog, kesediaan kalian untuk mendukung sangatlah berarti bagiku.

Yang kelima, kepada Pak Sahala Napitupulu, yang tidak segan memberikan kritikan tegas tapi halus, sehingga membangun kedewasaan saya dalam menulis. Terima kasih Tuhan memberkati. Juga Sister Nancy yang mendorongku untuk berani bermimpi membuat buku rohani!! Keyakinanmu terhadap kemampuanku lebih besar daripada keyakinanku pada diriku sendiri, Sis, tapi aku akan berjuang untuk meraih mimpi itu. Dan aku yakin, jika ini kehendak-Nya pasti ada jalan. Amin

Yang ke enam, kepada semua pihak termasuk CBN (Cahaya Bagi Negeri) yang menaungi Jawaban(dot)Com yang sudah memberikan kesempatan untuk para bloger Kristen unjuk Kreativitas. Terima kasih pula…hadiahnya menyegarkan. Maju terus ya CBN, banyak kalangan yang butuh sentuhan “CAHAYA” dari kalian semua.

Juga kepada seluruh teman dan pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang mau ikut bergembira atas kemenangan ini. Tanpa kegembiraan kalian, kemenangan ini pasti terasa sepi, kawan!

Jika ingin melihat acara puncak CIB FEST 2009 tersebut, bisa dilihat di sini. Pada link tersebut dilengkapi dengan photo-photo liputan..(biar gak berat buka blog ku..hehehe..

Kamis, 15 Oktober 2009

IKAN ASIN

7 komentar
Sebelum menikah, saya bukanlah penggemar ikan. Meskipun mengetahui kandungan gizi dan manfaatnya yang begitu bagus untuk kesehatan, saya tetap saja tidak mau menyantapnya. Alasannya? Karena enggan ketulangan, maka biasanya jika ‘terpaksa’ menyantap ikan saya menggunakan tangan kosong alias nyeker, dan bagi saya ini sangat merepotkan.

Setelah menikah, ikan menjadi santapan hari-hari keluarga kami. Pasalnya suami berasal dari Manado, dan terbiasa menyajikan menu ikan dalam hariannya. Mau tidak mau saya melakukan koreksi selera, bahkan mulai belajar mengolahnya. Ikan yang saya sukai adalah ikan Tuna, selain tanpa duri, rasanya seperti daging sapi.

Untuk urusan memasak ikan – ikan itu, saya banyak belajar dari suami yang lebih piawai memasak masakan Manado. Mulai dari persiapannya untuk menghilangkan bau amis, hingga cara pengolahannya supaya tidak hancur ataupun terlalu mentah.

Ada kejadian yang cukup membuat pipi saya memerah ketika belajar memasak ikan laut. Sewaktu makanan sudah tersaji di meja dan suami menjadi jurinya, alisnya sempat mengerut, terus dia bertanya,”Gak pakai garem ya? Kok hambar?”

“Loh? Emang harus pakai garam? Bukannya semua ikan laut itu asin?” Jawab saya

“Kok bisa kamu berpendapat kalau semua ikan laut itu asin?” tanya suami

Dan saya pun menjawab dengan PeDe nya..”Lha, kan air laut itu asin, makanya semua yang dari laut pasti asin!”

Dan….meledaklah tawa suamiku waktu itu. Yah, saya baru tau kalau tidak semua ikan laut otomatis menjadi ikan asin. Hanya ikan laut yang melalui proses penggaraman sajalah yang menjadi ikan asin.

Ya .. ya.. pada akhirnya saya tahu, bahwa ternyata tidak semua telah saya ketahui..hehehe…
Seperti ikan laut yang tidak otomatis menjadi ikan asin, demikian jugalah manusia tidak bisa otomatis mengalami perubahan. Entah perubahan ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Semua tergantung pada pribadi masing-masing, apakah mau terpengaruh atau tidak.

Apakah kita mau menjadi pribadi yang “mati” untuk hal yang buruk atau hal yang baik. Jika kita menyadari bahwa perubahan pribadi itu tidak datang tiba-tiba, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga hati dan pikiran kita dengan penuh kewaspadaan.

Pro 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Sehingga kita bukan menjadi pribadi yang mudah hanyut dan tersesat, tetapi menjadi pribadi yang kuat dan membawa pengaruh yang baik. Bukan menjadi pribadi yang mudah diracuni, tapi pembawa penawar bagi yang keracunan. Bukan menjadi ikan mati yang diasinin, tetapi menjadi garam yang mencegah atau memperlambat proses pembusukan. Bukan orang yang mudah terseret dalam godaan malam, tapi menjadi terang bagi yang sedang tersesat.

Mat 5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Mat 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Mat 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Kamis, 08 Oktober 2009

Bencana Vs Murka Tuhan

9 komentar
“Dosa besar apa yang sudah mereka perbuat hingga membangkitkan murka Tuhan?” pertanyaan retorik itu keluar dari mulut teman saya ketika kami menyaksikan proses pencarian jenasah dan evakuasi korban gempa di Padang

Berhubung saya sedang larut dalam perasaan duka, dan sibuk dengan tissue dan airmata yang ikut jatuh, saya jadi tidak terlalu berminat berdiskusi atau menanggapi grenengan taman saya itu.

Benarkah bencana alam ini terjadi karena amuk murka-Nya? Begitu mudah marahkah DIA sehingga DIA membinasakan apa yang sudah DIA ciptakan? Hm…saya kok jadi punya analisa berdasarkan sedikiiiiiit pengetahuan saya tentang Alkitab yang berkaitan dengan hal ini.

Ketika manusia pertama jatuh dalam dosa, maka sifat kekekalannya berubah menjadi kefanaan. Begitu juga tanah atau bumi yang ditingali mereka dan anak cucu mereka (termasuk kita) mewarisi kefanaan itu. Itulah sebabnya semua manusia akan mengalami kematian, dan segala yang ada dunia ini akan mengalami kebinasaan.

Jadi bencana, penderitaan, peperangan, adalah sesuatu yang sudah tertulis beribu abad yang lalu. Sekarang ini tinggal penggenapannya. Bahwa semua itu terjadi sebagai awal dari penderitaan zaman akhir.

Mat 24:6b sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.

Kalau boleh meminjam istilah bengkel, bencana alam itu seperti awal dari kerusakan mesin. Baru awal menuju kebinasaan yang sesungguhnya (baca : awal dari sekian banyak tanda kiamat)

Ketika kekekalan berubah menjadi kefanaan, maka berlakulah tanggal kedaluwarsa. Dan saya sangat meyakini bahwa segala sesuatunya sudah tercatat dalam buku-NYA. Bahwa di Padang akan terjadi gempa pada tanggal 30 Sept 2009 pukul 17.16 WIB sudah tercatat dalam buku-NYA sebagai tanggal kerusakan bumi di daerah Sumatera Barat. Dan jiwa-jiwa yang melayang bersamaan di tanggal tersebut juga sudah digariskan-NYA sebagai hari akhir perjalanan para musafir itu di bumi ini. Terbukti ada banyak cerita tentang orang-orang yang terselamatkan dari gempa tersebut melalui hal-hal kecil seperti yang tertulis di sini

Saya masih sangat meyakini bahwa kelahiran, jodoh, dan kematian seseorang adalah misteri Ilahi yang hanya diketahui oleh DIA dan para staff-Nya. Mengapa ada banyak orang di Sumatera Barat pada waktu itu di jam yang sama meninggal dunia serentak? Hanya DIA yang mengetahuinya..dan mengapa masih banyak orang yang hidup lolos dari jerat maut yang dibentangkan oleh gempa itu, tentunya Dimaksudkan-Nya untuk sesuatu hal yang baik.


Kalaupun pada akhirnya bencana itu memberikan kesempatan bagi para korban yang masih hidup untuk mengintrospeksi diri; saya menyebut hal ini adalah kebijasanaan yang diberikan TUHAN kepada manusia dalam menyikapi hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupnya untuk kebaikan hidup selanjutnya.

Rom 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah

Saudaraku,
Lempengan bumi boleh saja meregangkan ototnya
Dan daya yang dihasilkannya boleh saja memporakporandakan segala yang hidup dan yang mati di permukaan ranah Minang
Kerentaan dunia ini boleh saja menyebabkan aus-nya poros bumi
Namun ketahuilah…semua ini sudah di gariskan sejak awalnya
Bukan karena Tuhan marah
Bukan karena Tuhan bosan dengan kita
Bukan…
Lihat lah dengan mata hatimu
Bahwa DIA tengah membentangkan tangan-Nya untuk memelukmu, menghiburmu, membebat luka dan trauma di hatimu
Lihatlah dengan keyakinanmu
Bahwa DIA pun ikut menangis bersamamu
Ikut merasakan dukamu
Ikut merasakan perih di hatimu
Atas kehilangan sanak keluarga
Atas terseraknya susunan impian-impianmu

DIA tahu ada ibu yang patah hatinya karena kehilangan anak dan suami
DIA tahu ada calon pengantin yang kehilangan mempelai lelaki atau perempuannya
DIA tahu..bahkan peduli dengan apa yang kalian rasakan
DIA tahu banyak anak yang harus menjadi yatim piatu
DIA tahu..tapi tak kan berdiam membiarkan kalian menjadi yatim piatu

Aku Cuma bisa berdoa, kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan-Nya yang maha dahsyat bagi kalian
Sehingga kalian tetap sanggup tersenyum dan tegap menyongsong masa depan cerah yang sudah dipersiapkan-Nya bagi kita.

Amin.