Oleh : Riris
Ratu Pertiwi sedang gundah gulana. Matanya sembab, gelungan rambut hitamnya terurai tak beraturan. Kiaranya tampak kusam lama tergeletak di sudut peraduannya. Hatinya sangat perih, putera semata wayangnya sedang sakit keras.
Putera Ratu Pertiwi, bernama Pangeran Persada. Seorang Pangeran gagah perkasa dan bergelimang keelokan. Kharismanya termasyur hingga ujung-ujung dunia, Pesonanya adalah syair para Pujangga, keelokan parasnya adalah lagu para biduan. Tegap langkahnya adalah simfoni yang harmonis para pemusik. Puji-pujian yang indah baginya.
Pangeran Persada ini memiliki keistimewaan. Pada waktu-waktu tertentu dia bisa berganti kepala. Kepala-kepala yang bergantian di tubuhnya tak membuatnya dilupakan orang. Namun sayang, belakangan ini ketika berganti kepala baru, tubuhnya berontak melawan.
Bulu-bulu kakinya meronta-ronta bersekongkol melakukan perlawanan. Masing-masing hendak beranjak dari tempatnya tumbuh dan tertanam. Itu belum seberapa. Sekarang tangan dan kakinya berebut ingin menjadi kepala. Sehingga kaki menendang-nendang kepalanya tanpa henti, tangan menampar kepalanya terus menerus. Pangeran Persada tak sanggup mengendalikan tubuhnya sendiri.
Pertengkaran anggota tubuh sang Pangeran Persada makin menggila. Entah bagaimana awalnya, semua anggota tubuhnya kini bermulut juga bersuara lantang. Setiap hari anggota tubuhnya bertengkar hebat. Riuh rendah suaranya kalahkan erangan Pangeran Persada.
Para Tabib di istana tak ada yang sanggup menemukan penyebab sakitnya. Ramuan pusaka yang selama ini mujarab sekalipun tak mampu mengurangi penderitaan Pangeran Persada
Ratu Pertiwi tak kuasa menahan kepedihan, isak tangisnya tak bisa dibendung lagi. Airmatanya terus menerus mengalir. Tiba-tiba saja dia teringat Sahabat-nya. Satrio Piningit namanya.
Satrio Piningit adalah Putera Tunggal Raja Semesta. Dia adalah kesatria yang sakti mandraguna. Ditangannya diletakkan segala kuasa untuk menghidupkan dan mematikan, mengadakan dan meniadakan, merendahkan juga meninggikan. Nama Satrio Piningit ini sudah tersohor di seantero bumi.
Sekalipun memegang kekuasaan tertinggi di atas segala kerajaan, dan pedang keadilan selalu terselip di pinggangnya, kegemaran Satrio Piningit ini adalah menaburkan kedamaian. Mengajarkan pengampunan, juga menyulut cinta kasih di semua tempat.
Senang menjelajah dan berbuat kebaikan. Mencelikkan yang buta, menyembuhkan yang kusta, membuat yang timpang berjalan bahkan melompat. Dimana Satrio Piningit berada, disana tercipta banyak sekali keajaiban.
Maka Ratu Pertiwi mengutus para utusan untuk menjemput sang Satrio Piningit. Dan jawaban yang diberikan adalah,”Tunggu ya?! Masih banyak yang harus kukerjakan di sini. Aku pasti akan berkunjung ke kerajaan Ratu Pertiwi, jika semua urusanku di sini sudah selesai.”
Ratu Pertiwi bersabar menantikan kedatangan Satrio Piningit, sebagai sahabat dia sudah sangat mahfuz dengan kebiasaan Satrio Piningit yang selalu sibuk untuk menolong banyak orang. Ratu Pertiwi percaya Satrio Piningit pasti akan menolongnya.
Keriuhan kembali terdengar dari kamar Pangeran Persada, kini tangan kirinya berusaha memantik api membakar hati sang Pangeran. Sepuluh dayang yang merawatnya kewalahan menahan pemberontakan anggota tubuh Pangeran Persada.
Pesona Pangeran Persada seolah lenyap. Luka-luka ditubuhnya menebarkan bau anyir. Dan keperkasaannya menyusut dalam daging dan tulangnya. Erangan demi erangan keluar dari mulutnya. Suaranya makin pelan tak berdaya.
Ratu Pertiwi tak sanggup menyaksikan penderitaan puteranya. Namun dia tetap bersabar untuk merawat dan mendampinginya. Ratu Pertiwi hanya menjauh dari Pangeran Persada tatkala dia harus menghindari pukulan tak terkendali dari tangan dan kaki Pangeran yang masih juga ingin menggantikan kepala Sang Pangeran.
Dayang-dayang perawat istana banyak yang mengundurkan diri karena tak tahan dengan bau busuk tubuh Pangeran Persada. Kehidupan berkesenianpun terhenti. Tak ada lagu-lagu biduan yang lembut untuk melepaskan lelah dan kepenatan, tak ada musik yang ditabuh halus, tidak jua musik yang riang terdengar. Negeri Ratu Pertiwi senyap seakan tidak berpenghuni. Bau anyir tubuh Pangeran Persada membuat lumpuh semua aktivitas negeri. Seluruh rakyat memilih untuk berdiam diri di rumah. Membiarkan sawah, ladang, juga ternak terlantar.
Kemampuan Pangeran Persada untuk bertahan sudah sampai di titik nadirnya. Kini mulut-mulut di anggota tubuhnya tidak lagi berdaya untuk berteriak, tangan dan kakinya lunglai tak mampu lagi menendang ataupun menampar.
Dalam kesenyapan, sampailah Pangeran Persada pada takdir yang memutuskan untuk kembali ke haribaan Raja Semesta. Sedu sedan Ratu Pertiwi meledak memenuhi negeri, tangisan para dayang yang setia terdengar keras. Jantung kota seakan ikut berhenti bedenyut. Duka menggelayut, bendera perkabunganpun dikibarkan.
Di hari ketiga meninggalnya Pangeran Persada, datanglah rombongan Satrio Piningit di kerajaan Ratu Pertiwi. Melihat bendera perkabungan di seluruh negeri, mengertilah Satrio Piningit bahwa Pangeran Persada sudah tiada.
Maka bergegaslah Satrio Piningit menjumpai Ratu Pertiwi. Ketika dia bersama rombongan sampai di kerajaan, bersegeralah Ratu Pertiwi menemuinya. Tersungkur di kaki Satrio Piningit, melepaskan tangisannya di sana, dan berkata sendu,”Satrio, andaikata waktu itu kamu datang, pastilah dia sembuh. Kini semua sudah terlambat!”
Tidak ada kemarahan dari Ratu Pertiwi, dia menerima takdir Pangeran Persada dengan hati yang ikhlas. Keikhlasan Ratu Pertiwi, juga tangisannya meluluhlantakkan hati Satrio Piningit. Maka mengangislah Putra Tunggal Raja Persada, dengan lembut dibangunkannya Ratu Pertiwi dari sujudnya dan berkata,”Dimanakah kau makamkan dia? Aku mau membangunkannya!”
“Satrio, sudah tiga hari yang lalu dia meninggal, selain banyak luka di dalam jasadnya bukankah dia sudah membusuk dan pasti baunya sangat menyengat?”jawab Ratu Pertiwi
“Percayalah kepadaku, Ratu! Bukankah Ayahanda Raja Semesta sudah memberikan segala kuasa kepadaku? Bukankah dengan kuasa itu Aku sanggup mengadakan dan meniadakan? Menghidupkan dan mematikan bukanlah hal yang sulit bagiku. Bukalah kuburnya!” Perintah Satrio Piningit.
Adapun makam Pangeran Persada terbuat dari Goa Batu, ditutup batu besar untuk menghindari tercemarnya tanah pertiwi dari sakit aneh yang dideritanya. Juga tutup goa yang dari batu untuk menutupi bau busuk dari tubuh Pangeran Persada.
Maka Hulubalang memerintahkan para prajurit untuk mengangkat batu penutup makam itu. Para hadirin menutup hidungnya. Mereka ingin menyaksikan apakah Satrio Piningit mampu membangkitkan Pangeran Persada?
Kesangsian rakyat membuat Satrio Piningit masygul, namun rasa asih dalam hatinya membuat Satrio Piningit tetap melakukan tugasnya. Ketika kubur dibuka, dengan suara yang lantang dan berwibawa Satrio Piningit berkata,”Pangeran Persada, bangunlah!!”
Semesta diam, angin berhenti berhembus, burung-burung menghentikan kicauannya, senyap sejenak semua seakan tersentak mendengar suara yang penuh kuasa itu. Dan......terjadilah keajaiban, tubuh Pangeran Persada yang sudah hancur pulih seketika. Bau anyir dan busuk lenyap, dan Ruh pun datang kembali pada jasad yang sudah dipulihkan. Dengan kaki dan tangan yang masih terikat kain kafan, Pangeran Persada bangkit dari kematiannya.
Sukacita melanda, tempik sorak membahana di seluruh negeri. Kesenian hidup kembali, syair, sajak, lagu, musik, juga kegirangan memenuhi negeri pertiwi. Kembali Ratu Pertiwi bersujud di kaki Satrio Piningit.
“Segala Puji bagi Satrio Piningit, tak ada kata terlambat. Karena segala kuasa sudah berada ditangan Satrio Piningit!!”
Satrio Piningit tersenyum, berlalu dari Negeri Pertiwi, melanjutkan perjalanannya untuk menebar cinta, kedamaian, juga keajaiban di tempat-tempat lainnya.***
Ide cerita : Yohanes 11
Indonesia ini sudah sakit parah, ilmu politik, hukum, ekonomi, juga pengetahuan lain tidak akan pernah mampu menyembuhkannya.
Hukum yang carut marut tidak akan bisa dirapikan dengan peraturan yang lebih keras
Hukuman tidak akan membuat orang jera melakukan kesalahan
Hukum tidak mampu membawa orang insyaf dari kesalahan dan kedurhakaannya
Negeri ini tetap membutuhkan orang-orang pintar dan hukum yang jelas. Namun di atas semua itu negeri ini butuh dilawat oleh TUHAN sendiri. Negeri ini..butuh pendoa-pendoa yang militan.
Karena keinsyafan tidak bisa diciptakan oleh peraturan, keinsyafan datang ketika Tuhan melawat umat-umat-NYA.
Berhentilah mencela pempimpin negeri ini, berhentilah bekomentar seperti orang yang paling bijak.
Mulailah berdoa bagi kesejahteraan negeri yang saat ini kita diami. God Bless You All.
Sabtu, 09 Juli 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





7 komentar:
Juli 10, 2011
hebat! Salut kamu bisa mengarang ceirta seperti ini. Aku suka alur ceritanya, dan memang aku bisa membaca rujukan ayat yang dipakai.
EM
Juli 11, 2011
Wah nulis lagi nih yee... ayo ayo yang konsisten...
Nyawa tulisanmu tetap utuh kok, bagus!
Juli 11, 2011
CIAMIKK , tetap menulis Bu ,jadi saluran berkat lewat karya tulisan anda. JCbu
Juli 11, 2011
Cerita yang lebih membumi dengan rujukan ayatnya :)
Btw suka mbak dgn kata2 berhentilah mencela seolah yg paling bijak namun mulailah berdoa :D nice
Juli 14, 2011
Hahaha, sejak awal, cerita ini sudah menampakkan kenakalannya. Keterlaluan juga sih, menyindir sesuatu yang tepat di hidung kita semua dengan sangat kentara. Ah...Bu jangan sekeras itulah menghantamnya, entar ada yang protes lho.
Saya suka sekali membaca cerita tersebut karena sejak awal saya penasaran ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh penulis terhadap si sakit. Karya yang hebat! Hanya itu yang keluar dari mulut saya ketika sudah selesai membacanya.
Juli 21, 2011
Tulisan yang bagus.. Hebat !! Terus berkarya...
Juli 23, 2011
whoa....awesome! Praise God! keep writing
Poskan Komentar