Jumat, 23 April 2010

Ban Serep

Biasanya yang namanya serep tidak berada di tempat yang utama. Seperti Ban, jika dia sedang dalam posisi sebagai serep, dia tidak berada di as tempat roda berputar.

Jika kita sedang mengendarai angkot ban serep biasanya berada di antara tempat duduk penumpang. Posisinya selain tidak enak juga tidak mengenakkan karena penumpang ngkot sudah pasti duduk sedikit angkat kaki menginjaknya. LIhat..dia diinjak-injak.

Jika kita mengendarai mobil pribadi, maka biasanya di letakkan di tempat yang paling belakang. Entahkah itu digeletakkan begitu saja atau dimasukkan dalam kabin khusus ban serep (ada yang tahu nama khusus untuk tempat ban serep apa ya?)

Ketika roda cadangan atau ban serep ini sedang menjalani hari-harinya sebagai cadangan, keberadaannya seperti tidak penting. Dia teronggok begitu saja tanpa ada yang memperhatikan bahkan memberikan penghargaan.

Namun sungguh malang jika pengemudi atau pemilik kendaraan ini tidak memperhatikan vitalitas roda cadangan sebaik roda-roda yang lainnya. Mengapa, karena di saat-saat roda utama mengalami masalah, maka roda cadangan atau ban serep ini akan sangat menolong.

Ketika roda cadangan ini bisa menggantikan posisi roda yang sedang bermasalah, kita sangat merasa berterima kasih dan baru menyadari betapa penting dan berharganya keberadaan ban serep. Namun ketika ban serep ini sedang menunggu giliran untuk menjalankan fungsinya…pernahkan kita menganggapnya begitu penting? Rasanya tidak!! Dan hanya beberapa saja yang menyadari lalu bertindak adil dengan cara memberikan perawatan yang cukup kepada ban serep supaya dia bisa berfungsi dengan baik ketika dibutuhkan.

Dalam kehidupan bekerjasama dalam suatu tim, entah itu di kantor atau di dalam komunitas tertentu. Ada orang-orang yang keberadaannya seperti roda cadangan ini. Seringkali diabaikan dan tidak dinilai penting.

Boro-boro penghargaan, seringkali karena jenis tugasnya yang tidak populer, para atasan sering memberikan diskripsi “hanya” untuk menjelaskan kepada orang-orang yang menanyakan apa tugas si “roda cadangan” ini. Misal : oh, kerjaannya hanya membuat surat, kerjanya hanya ini..itu.. Bahkan mungkin baru dihargai keberadaannya ketika dia tampil sebagai "pemain utama"

Well, kita memang tidak bisa mengelak adanya perbedaan jenjang dalam jabatan. Dan rasanya kita semua harus mulai menyadari, bahwa tidak ada yang tidak penting dalam sutu tim kerja. Semua dalam porsinya masing-masing adalah penting. Karena jika salah satu saja mogok atau tidak berfungsi dengan baik, maka saya yakin harmoni kerjanya tidak akan indah dan tentunya akan mempengaruhi mutu outputnya.

So…
Para atasan : hendaknya memberikan penghargaan yang cukup untuk anak buah dengan tugas-tugas yang tidak populer karena hanya memback up sesuatu. Supaya mereka memiliki energi tambahan untuk menjaga vitalitas mereka (semangat, skill, bahkan loyalitas) sehingga ketika mereka harus menggantikan si pemeran utama mereka menjadi pemeran utama yang prima dan menghasilkan output yang prima pula. Jangan sakiti hati mereka dengan kalimat-kalimat yang meremehkan juga dengan diskripsi yang membuat mereka merasa tidak dihargai.

Dan untuk teman-teman yang sedang dalam posisi “pemain cadangan” jangan berkecil hati..karena..energi dan kemampuan kita sama pentingnya dengan para pemain utama. Tetaplah meyakini bahwa akan ada masanya kalian semua menjadi pemeran utama dan tidak hanya duduk di kursi pemain cadangan. Anggaplah ini masa-masa persiapan untuk menjadi pemain tangguh pencetak goal yang luar biasa.

Jika para atasanmu tidak memberikan perawatan yang semestinya…..hayo…tetaplah menjaga vitalitas kalian..vitalitas yang berupa semangat, skill, dan loyalitas. Supaya masa penantian pergantian peran tidak membuatmu menjadi menurun. Supaya masa penantianmu sungguh-sungguh menjadi masa persiapan pengumpulan energi yang dahsyat. Sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Kolose 4:1 Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

Eph 6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

...................Jumat, 23 April 2010.......................

12 komentar:

DV mengatakan...

Ketimbang jadi pemain cadangan aku mending pindah :)

Tim mengatakan...

Mungkin krn jumlah calon ban serep ( konteks tulisan di atas) melimpah dan mudah didapat ( dg gj murah ) di negeri ini, sehingga posisi tawar ban serep menjadi lemah utk penghargaan,tp utk penghargaan non financial memang hrs diberikan utk produktifitas dan kemanusian, GBU

http://www.citraindah.net

nanaharmanto mengatakan...

Aku pernah juga mendengarkan curhat senada dari teman-temanku, Mbak...

Dan kau sendiri melihat sendiri si Boss memang bossy dan menyebalkan, sering banget nyuruh-nyuruh seperti nyuruh pembantu pribadi.

Aku pernah membela temanku ini, dan aku agak dimusuhin si Boss. Tapi aku cuek aja, lha wong aku bener... :)

Ceritaeka mengatakan...

Hemm...
gak enak bgt jd ban serep..
bener kata DV. mending cabs ya...

Ceritaeka mengatakan...

Kenapa komen gue td gak masuk yah?
Btw akur sama DV.. mending pindah deh

Q - Kiss mengatakan...

Justru kalo kita jadi pemain cadangan, lebih bangga donk, dr figuran ke pemeran utama misalnya, asyik nggak? nggak papa, posisi apa saja itu nggak penting, yang penting mensyukuri apa yang sdh kita dapatkan, positifnya kita kerja buat DIA, ya khan?

Vicky Laurentina mengatakan...

Hai, Mbak Riris! Saya pernah jadi ban serep. Saking serepnya, saya sampai merasa ide-ide saya tidak dihargai.

Tapi benar kata Mbak Riris, saat-saat ketika kita menjadi ban serep adalah saat untuk menempa kita jadi pemain utama suatu saat. Jadi saya memainkan peran saya sebagai ban serep, tapi saya terus memupuk kreativitas dan membangun mental jadi pemeran utama. Ketika saya akhirnya hengkang dari tempat kerja, baru para boss sadar bahwa selama ini kontribusi ban serep sangat penting, dan tanpa ban serep itu kinerja mereka tidak teroptimalkan dengan baik. :-)

Femikhirana mengatakan...

ada pemimpin cadangan gak ya ris hihihi... pasti gak enak banget kalo gitu.

thx ris, hal ini perlu untuk mengingatkan orang-orang yang biasa membantu di sekeliling kita. mereka bukan orang kecil, tetapi mereka itu orang besar.

Riris Ernaeni mengatakan...

@DV dan Eka : hm..bagaimana dengan orang2 yang "terpaksa" bertahan dalam kondisi yg ga enak, "terpaksa" mau menjadi pemain cadangan ?? Tulisan ini sebenarnya lahir dari curhatan teman yg "terpaksa" mau jadi ban serep.

@ Nana : untung, bosku ga kaya gitu, Na. Kalau kaya gitu..waah..bisa nangis2 aku dibuatnya.

@ Tim : hm..rasanya harus adil kak, GAP financialnya jg jangan terlalu tinggi. Thanks for comment anyway.

@ Mas Kikis : Setuju :D

@ Vicky : syukurlah..jika akhirnya jadi contoh/ model nyata dari tulisan saya. syukurlah, kamu sanggup bertahan bahkan terus mengembangkan diri, sehingga akhirnya kamu menjadi "seseorang". Selamat ya!! Juga terima kasih sudah berkunjung.

@ Femi : senang..kamu bisa menangkap benang merah dari tulisan ini.

nh18 mengatakan...

Betul ...
setiap orang punya peran masing-masing ...

Ada yang (terlihat) penting ...
Ada yang (seolah) tidak crusial ...

namun sesungguhnya dalam kerjasama ... semua harus berperan ... seberapa (dianggap) sepelenya pun pekerjaan kita ...

Ban Serep itu juga punya fungsi sendiri lho ...

salam saya Riris

julianusginting mengatakan...

namanya juga ban serep ya pastinya jadi yg kedua,ketiga,dst. ga enak jd ban serep

jalahati mengatakan...

renungan yg menyentuh. seringkali kita dituntut rendah hati dan bersedia menjadi ban serep. bukan karena kita tidak penting atau karena ada orang lain yg lebih penting tapi karena pada saat tertentu itulah menjadi ban serep adalah keputusan yg tepat.