Jumat, 17 Oktober 2008

Iman Yang Terlatih

Saya terlahir dengan sifat dasar,"Gampang Kuatir" rasanya hal ini lahir karena kebiasaan saya yang seringkali merasa harus membuat proyeksi masa depan. Tak tanggung-tanggung, seringkali saya memikirkan hal-hal yang akan terjadi sekitar 3-5 tahun yang akan datang. Padahal alkitab menuliskan :

Matius 6 : 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Tapi.. tetap saja kebiasaan buruk saya itu tidak hilang-hilang.

Hingga akhirnya Tuhan memasukkan saya ke dalam kurikulum sekolah "Percaya", melalui kesulitan yang benar-benar sulit.

Begini ceritanya :
Karena kesalahan kami mengambil keputusan tentang keuangan, akhirnya di bulan Maret 2008 kami mengalami kembali kekosongan lumbung. Dan ini harus kami bayar mahal karena menurut prediksi kami sebagai manusia, krisis keuangan ini baru akan berakhir tahun depan (Wow !!)

Salah satu akibat dari kelalaian itu, setiap bulannya kami sering kebat-kebit menghadapi kekurangan. Apalagi kalo ada kejadian di luar dugaan... Aduh..bisa pusing tujuh keliling saya sebagai pengatur keuangan. Tapi herannya, ada saja berkat untuk menutup kekurangan kebutuhan kami. Dengan kata lain, kami tidak pernah mengalami kekosongan BERAS, Minyak, Susu, dsb. Yah,mungkin keuangan kami belum lah kembali merdeka, tapi kami selalu melihat hal2 ajaib yang terjadi di saat krisis, bahkan di detik - detik terakhir. Seperti ketika kami harus memilih mana yang harus kami beli : Beras atau Susu Bayi? Padahal waktu itu keuangan kami sangatlah tipis, dan kedua barang tersebut adalah kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda dalam pemenuhannya. Tapi ya itu.. di detik terakhir.. ada berkat yang membuat kami bisa memenuhi keduanya.

Sejujurnya, karena kami tahu ini sebagai akibat kesalahan kami, maka kami takut untuk membawanya di dalam doa-doa kami. Menurut pendapat saya,"Haruskah Tuhan ikut bertanggungjawab atas segala yang terjadi sebagai akibat kesalahan kami?" Tapi keajaiban-keajaiban yang kami alami memperdalam pengenalan kami kepada Tuhan. Bahwa yang DIA lihat adalah seorang anak yang butuh pertolongan..bukanlah seorang anak yang telah berbuat kesalahan

Seringnya kami mendapatkan berkat dadakan yang meluputkan kami dari berbagai kesulitan, membuat kami mengaminkan :

Matius 6 : 25 - 26 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Kami aminkan bahwa kehidupan kami ada dalam perhatian Tuhan. Dan perhatian Tuhan ini dilanjutkan dengan pemeliharaanNYA. Tak peduli apakah kesulitan itu timbul karena kesalahan kami atau bukan.

Saya pribadi menjadi lebih tenang dalam menghadapi pergumulan hidup. Karena saya Tahu, Tuhan peduli.. gak hanya peduli.. DIA menolong..Saya tidak lagi ngoyo dalam membuat proyeksi masa depan, karena saya tahu Masa Depan saya ada di tangan YANG BERTANGGUNGJAWAB. Saya tak lagi pusing ketika terdesak masalah dan dibayangi ketakutan tentang bagaimana nanti, karena saya tahu.. ada Tuhan yang bisa saya percayai dan andalkan. Seringkali, iman saya mengajak berkata,"Ah, ada Tuhan ini!! Gw pasti tertolong!!"

Sebelum segala kesulitan yang kami alami ini, sulit sekali mengatakan sampai ke dasar hati,"Aku pasti ditolong Tuhan!" tapi setelah semua pengalaman kami bersamaNYA...kami bisa tertawa menatap masa depan.

Pr 31:25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

Ya, Tuhan memberikan kami pakaian berupa kekuatan dan kemuliaan. SEhingga bagi kami masa depan adalah sebuah misteri yang mesti dipecahkan bukan lagi masalah yang mesti ditakuti.

Kami tahu, saatnya akan tiba Tuhan memerdekakan keuangan kami. Dan karena kami tau, kami bersuka cita dalam menantikan pertolongan Tuhan itu. Kalau biasanya penantian adalah sesuatu yang membosankan, kali ini berisi sukacita sorga yang membuat kami kuat dan sanggup menghadapi semua. Bukan oleh kekuatan dan keperkasaan kami, tapi oleh belas kasihan TUHAN bagi kami.

Mari kita simpulkan sesuatu :
1. JAlani hari mu .. sehari ke sehari... jangan mencoba menganalisa hidup, tapi jalanilah. Karena analisa hidup hanya akan membuatnya jadi lebih rumit
2. Yakinlah bahwa hidup dan masa depanmu diberkati
3. sekalipun semua kesulitan ini timbul karena kesalahanmu...Tuhan tetap bersedia menolong, sambil mengajar hikmah aapa yang bisa kita ambil dari kesalahan itu.
4. Iman yang kuat dan terlatih tidaklah timbul dengan sendirinya, tapi hasil dari pergaulan yang intim dengan Firman Tuhan.. dan kerelaan diajar dalam media yang sukar

Iman kami bertumbuh.. dan terlatih dalam menghadapi hal-hal yang mustahil. Kami bersyukur..kesulitan membuat kami mengepakkan sayap untuk terbang ke tempat yang lebih tinggi. Beban membuat otot-otot rohani kami semakin kekar. Dan kesulitan...semakin membuat kami semakin bisa mengenal kasih TUHAN yang tak pernah bisa diukur. Mengenali DIA dari sudut2 atau sisi-sisi hidup yang berbeda.

Yah, selalu ada yang baru dan mengejutkan ketika kita menemukan DIA dari sisi yang lain

2 komentar:

Sahala Napitupulu mengatakan...

Saya senang dengan cara pandang bu Riris dalam menyikapi sebuah kesulitan. Ibu melihat hal itu sebagai pembelajaran dan cara Tuhan mendidik kita. Seperti ibu katakan : " kesulitan yang membuat kami mengepakkan sayap untuk terbang ke tempat yang lebih tinggi. Beban membuat otot-otot rohani kami semakin besar." Saya setuju. Tulisan ini sangat membangun.Keep on fire, bu.JBU.

Riris Ernaeni mengatakan...

Terima kasih untuk supportnya, Pak! Senang mendapat kunjungan rutin dari senior. Jangan segan untuk memberi kritikan ya, supaya tulisan saya semakin dewasa.