Selasa, 21 Februari 2012

Suatu Hari di Rumahku

"Mamaaaa!!" teriak Joshua menyambut kepulanganku dari Gereja pagi itu. Suara jernih itu membuatku bersyukur, setelah beberapa saat lamanya aku mengkhawatirkan kesehatannya.

Semalam Joshua terkena serangan asma ringan, namun tetap saja membuatku cemas. Hujan yang mengguyur deras membuat suhu udara berubah ekstrim, dan itu yang mencetuskan alerginya.

Sepanjang ibadah pagi dalam pelayananku, aku hanya bisa memohon belas kasihan Tuhan untuk menyembuhkan Joshua. Setidaknya jangan bertambah parah. Dan suara jernih Jojo menyambutku pagi itu menjadi jawaban yang sangat melegakan.

Seharusnya kami mesti berangkat untuk Sekolah Minggu, namun hujan tak kunjung reda. Aku putuskan di rumah saja, meskipun Farrel dan Joshua sudah protes dengan keputusanku. (diam-diam aku jadi berbisik minta Mobil sama Tuhan ;) )

Melihat aku berganti baju rumah, mereka kembali ke tempat mereka bermain. Joshua berlari ke meja makan, diambilnya selembar roti tawar. Tangan kirinya trampil mengoleskan mentega, masih dengan tangan kirinya..dia mulai menaburkan meisis. Begitu selesai, dia membawanya kepadaku dengan mata yang berbinar-binar,"Ini untuk mama. Dimakan ya Ma, biar sehat selalu!"

Mataku membola, tentu saja hatiku jadi deg deg ser tak karuan. Jo pun menampakkan ekspresi yang sangat senang saat aku memuji roti lapis buatannya sangat enak. Ekspresi yang terekam sampai saat ini.

Selesai aku menyantap roti itu, Jo kembali mendekat dan memelukku erat sambil berkata,"Ua (bc:Joshua) sayang mama, Ua gak mau mama sedih dan menangis kaya semalam."

Ingin rasanya nangis di tempat mendengar penuturan tulusnya. Semalam saat Joshua sedikit sesak aku sempat menangis (duh! mestinya gak boleh ya?) dan bilang,"Aduh Jo, andai bisa mama gantikan..mama saja yang sakit!" Joshua yang mulai mengantuk hanya mengeratkan pelukannya. Rupanya hal itu yang membuatnya ingin menghiburku dengan menghidangkan roti tawar lapis mentega pagi itu.

Mengingat hal itu, aku jadi teringat ibuku. Salah satu hal yang aku kagumi dari almh. Ibu adalah ketegaran beliau. Kesanggupan beliau untuk tetap tampil tenang sekalipun dadanya sedang bergemuruh. Kemampuan beliau untuk tetap menatap lembut sekalipun kemarahan tengah berkobar di hatinya. Juga kesanggupan beliau untuk tidak menangis di depan anak-anaknya yang sedang sakit, sekalipun aku tahu Ibu juga pasti menjerit sedih dalam hatinya waktu aku bolak balik masuk rumah sakit.

Ibuku…bukanlah seorang wanita yang sempurna. Namun kasih sayangnya menutupi semua kekurangan yang sempat tergores dalam ingatan kami anak-anaknya.

Setelah aku menjadi ibu dari dua anak laki-laki yang lucu-lucu itu, kekagumanku kepada beliau bukannya menyurut tapi malah makin menyala.

Dan ungkapan sayang Jo yang begitu tulus membuatku sedikit menyesal. Dulu aku tidak pernah mengatakan betapa aku menyayangi ibu. Kami memang tidak pernah bertengkar, tapi seingatku aku belum pernah melakukan hal yang sedikit istimewa untuk ibuku.

Andai waktu itu aku melakukan apa yang dilakukan Jo kepadaku, ibu pasti merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini bukan? Ah, Bu...waktu memang tak bisa diputar agar aku bisa melakukan apa yang tak sempat aku lakukan. Aku hanya bisa berharap ibu tahu betapa aku mencintaimu meskipun perasaan itu tak pernah aku ucapkan.

Dan kamu, kawan...kalau kau masih punya Ibu, ini kesempatanmu untuk menyapanya dan mengatakan betapa kau mencintainya.**

9 komentar:

Anonim mengatakan...

Good real story mom.. ;-)) 8 thumbs 4 you..JCbu n family..!!

applausr mengatakan...

wow cerita yang sangat baik... pelajaran nih buat saya.. terima kasih ya

kikis mengatakan...

hemmm....sip....

Amos S mengatakan...

saya percaya bahwa doa mbak Riris untuk punya mobil pasti Tuhan kabulkan. sehingga walaupun hujan tetap bisa ajak keluarga ke gereja. bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Luk 1:37

Danny Djayasentana mengatakan...

" Suatu HUBUNGAN tidak akan tergantikan dengan apapun oleh karena itu Kualitas HUBUNGAN yang harus selalu kita tingkatkan dan TUHAN lah SUMBERNYA "

Nayarini Estiningsih mengatakan...

mampir bentar, salam kenal :-) saya akan usahakan sering-sering berkunjung supaya bisa belajar ilmu ibu-anak meski belum ada anaknya sekarang hehe

blogecahayu mengatakan...

salam kenal,
Kasih ibu sepanjang jalan ya?!

Ceritaeka mengatakan...

Semacam berkaca-kaca baca ini mbak...
Salam untuk Jojo ya

nanaharmanto mengatakan...

Aduh...Mbak... aku jadi terharu banget... aku jaraaaannnggg banget mengungkapakan rasa sayangku ke mama dan papa kalau di rumah dulu.. anehnya, setelah merantau cukup jauh dari rumah, aku malah justru bisa mengungkapkan rasa sayang meski lewat telp atau SMS...

Meski mungkin orang tau kita nggak pernah mengharapkan ungkapan verbal dari kita, tapi dari kita sendiri memang sebaiknya mulai mengungkapkannya..

Nice posting, Mbak... :)